Selasa, 08 Mei 2018


KOMPLEKS GEREJA HKBP SUKABUMI

Oleh: Irman Firmansyah, S. Sos MM*

Kompleks gereja Huria Kriten Batak Protestan (Gereja HKBP resort Sukabumi) berada di jalan Sudirman nomor 12/19 Kota Sukabumi. Dalam batu peresmiannya diresmikan oleh HKBP resort Sukabumi dan Praeses Distrik VIII Jawa-Kalimantan pada hari minggu, 5 Oktober 2008. Pada masa kolonial Belanda kompleks ini disebut Het SOG Kapelletje dengan alamat Tjipelangweg nummer 6, sehingga sebagian masyarakat masih menyebut tempat ini sebagai Kapel (lokasi paling depan SOG adalah Capelijke atau Gereja Kapel yang sekarang menjadi HKBP). Kapel (Chapel) adalah bangunan yang dipergunakan sebagai tempat untuk persekutuan dan ibadah bagi orang kristen. Bangunan kapel biasanya melekat pada lembaga lain seperi gereja besar, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit atau penjara[1]. Lokasinya didepan Internaat (Asrama) putri SOG (Meisjehuis Internaat). Dari sumber Colonial Architecture, disebutkan bahwa Gereja kapel SOG pernah mengalami dua kali renovasi. Pertama, tahun 1925-1927 oleh arsitek W. Selle, kedua tahun 1940 oleh arsitek Reyerse, yang juga bermitrakerja dengan W.Selle dan de Bruyn[2].

 Gereja Kapel dibangun untuk keperluan asrama Soekaboemisch Opvoedings Gesticht (SOG). SOG semacam sekolah berasrama khusus untuk keluarga pekerja perkebunan di sekitar Sukabumi, mulai dari warga eropa dan atau warga Indo Eropa yang dikelola oleh Yayasan Protestan. Sebagian menyebutnya sebagai panti asuhan  karena diperuntukkan kepada para Belanda yang dipekerjakan di perkebunan yang kesulitan untuk mencari kosan untuk anak-anak yang bersekolah di Kota Sukabumi. Nama SOG sekarang masih tersisa sebagai toponimi menjadi nama gang SOG. SOG selain juga asrama sekaligus tempat pelatihan berupa berbagai keahlian semisal bengkel, peternakan, menjahit, pekerjaan konstruksi, elektronika dan perkayuan serta tata rias. Penghuninya saat itu kebanyakan adalah anak Belanda peranakan dan sebagian besar adalah penganut agama Kristen Protestan serta dihuni oleh ratusan siswa dan siswi di bawah pimpinan Zuster Gunninglaan. Siswa yang diasramakan terdiri dari berbagai usia mulai dari 5 tahun hingga 21 tahun dan dididik dalam disiplin dan keagamaan yang ketat[3].

SOG terdiri dari dua blok yaitu asrama Perempuan (Meisjeshuis Internaat) pimpinan Zuuster Aletta Berkholst dan asrama Laki-laki (Jongenhuis Internaat) dan Kinderhuis, asrama untuk anak-anak 10 tahun ke bawah, yang masih dicampur anak laki-laki dan anak perempuan.  Lokasinya dikelilingi kawat dan bilik bambu, serta beberapa penghuninya adalah siswi dari te Princes Juliana School yang berlokasi di Selabatoe Weg (Sekarang SMAK BPK Penabur).

SOG sempat dihuni penulis Indo Belanda dan juga pengajar Beb Vuyk bersama suaminya bernama Ferdinand. Beb Vuyk adalah seorang penulis yang sering menuliskan tentang kegetiran dinegri jajahan Hindia Belanda, dia pernah tinggal dan mengajar di asrama SOG pada tahun 1930[4]. Dia kemudian menjadi jurnalis dan bersimpati terhadap pergerakan kemerdekaan Indonesia. tempat tinggalnya di SOG sempat dikunjungi oleh Sutan Sjahrir saat di tahan di rumah tahanan Sekolah Polisi Sukabumi. Saat Jepang menyerang Sukabumi melalui pesawat-pesawatnya, SOG relatif tidak dihancurkan, sehingga bangunannya masih relatif utuh, hanya sekolah di seberangnya yang hancur[5].

Pada masa pendudukan Jepang, tempat ini dijadikan kamp interniran oleh militer Jepang. Secara spesifik diebutkan klinik Rosali di SOG sebagai tepat interniran orang Belada. Pada bulan Januari tahun 1943 terdapat sekitar 200 wanita dan anak-anak dikumpulkan di situ dan pada bulan Juli 1943 ada 500 wanita dan anak-anak. Penambahan tahanan ini diakibatkan karena banyaknya anak-anak serta wanita muda yang orang tuanya menjadi korban kekejaman dan penyiksaan Jepang[6]. Sementara bagian gereja dijadikan pos penjagaan mengingat perbatasan kota lama adalah jembatan cipelang[7]. Pada awal bulan tahun 1945, SOG menjadi basis bagi Kamp Republikan, pada saat itu Palang Merah masih memberi mereka bantuan seperti pemberian makanan secara rutin selama tiga minggu sekali, namun kondisi penghuninya kian hari kian buruk dan banyak yang jatuh sakit karena penyakit dan kelaparan. Pada tanggal 26 Oktober 1945, Kamp ini dikuasai oleh pasukan Sekutu yang membantu dan menjaganya sampai pengalihan kepada tentara Inggris yang datang hingga pada akhir November 1945, seluruh penghuninya dibawa dan dipindahkan ke tempat rehabilitasi tawanan perang (POW Rehabilitation) di Kedunghalang Bogor[8].

Sekitar tahun 1964-1969 SOG sempat dijadikan asrama Polisi Akabri[9]. Kemudian antara tahun 1970-an sampai dengan 1989 digunakan sebagai rumah bagi para pegawai Pemda Kota Sukabumi dan pegawai Secapa Polri atau disebut Asrama SOG di jalan Babakansirna tahun 1989 bangunan ini dibongkar dan dijadikan Kantor PU, Politeknik Sukabumi & Pasar Seni Sukabumi. Sekarang sebagian bangunan asrama belakang yang bersebelahan dengan rel kereta api masih tersisa sebagian[10]. Di samping gereja HKBP ada bangunan berkontur tinggi, terpisah oleh jalan Babakan sirna, sebuah jalan yang sebelumnya hanya jalan kompleks,  ada sebuah rumah tua. Rumah tersebut sebelumnya sekitar tahun 80-an dihuni oleh Valdin Penggabean pendeta HKBP, ibunya adalah guru bahasa Inggris di SMPN 2, namanya Bu Dinar[11]. Konon, bangunan sempat dikontrakan kepada perorangan, hingga saat ini dimiliki oleh Iping, Bos peternakan ayam di Sukabumi.[12]. Ada kemungkinan sebelumnya bangunan ini milik gereja HKBP yang dijual kepada pribadi. Rumah tersebut pada masa kolonial dimungkinkan merupakan bagian dari kompleks SOG karena kompleks SOG dalam peta Kota Sukabumi 1930an sangat luas mulai dari wilayah selatan degung hingga selatan gereja HKBP, jarak kedua kompleks sekitar 500 meter. Kompleks gereja kapel sendiri sebelah barat dibatasi oleh  oleh pabrik es Sari Petodjo, dan sebelah timur dibatasi oleh asrama polisi lapangan (Vield Politie),  jadi muka kompleks lebih kecil namun diselatan meluas hingga ke bawah pasar/rel untuk asrama laki-laki.  

Bangunan tersebut nampak merupakan bangunan tua dengan bentuk atap limas, dinding tembok dengan lapisan batu di bagian bawah. Jendela dan pintu  bermaterial kayu dengan campuran kaca. Lantai dengan tegel merah muda yang sama persis dengan tegel gereja HKBP (SOG Kapel). Fasade nampak Kanopi dengan tiang tembok. Dimungkinkan rumah ini dulunya diperuntukan bagi pengajar, pendeta atau pejabat asrama SOG. jika melihat tipe rumahnya mirip rumah Beb Vuyk seorang pengajar di asrama SOG tahun 1930. di SOG dalam sebuah  foto dengan suaminya, maka ada kemungkinan ada kesamaan gaya arsitekur yang dibangun diantaranya, fasade rumah dengan kanopi dan tiang (tiangnya lebih kecil kemungkinan sudah berubah), tembok batu dibagian bawah yang disusun agak rapat serta tipe jendela dan pintu.

Dapat disimpulkan bahwa bangunan tersebut dimungkinkan adalah bagian dari kompleks SOG yang kemudian dimiliki oleh pihak gereja HKBP, namun selanjutnya beralih kepemilikan kepada pribadi. Untuk masalah kepemilikan merupakan ranah Badan Pertahanan. Secara arsitektur dan struktur bangunan ini berpotensi sebagai  bangunan cagar budaya mengingat tahun pembuatan dan renovasina nya bisa jadi bersamaan dengan pembuatan dan renovasi gereja SOG Kapel. Akan tetapi bangunan ini belum ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

DAFTAR PUSTAKA

Buku dan Koran

Bakker, Felix, Schaler Frits,  1999, Tussen Djampang en Gedé: geschiedenis der opvoedingsgestichten te Soekaboemi (SOG), uitgaande van het Genootschap van In- en Uitwendige Zending te Batavia, Januari 1900-Februari 1946, Zwiggelte, Nederland

Knaud, JM, 1976, Herineringen aan Soekaboemi, Moesson, Den haag

Righni, Scova Bert, 2005, Een leven in twee vaderlanden: Een biografie van Beb Vuyk, KITLV Uitgeverij, Holland, Hal. 182

Bataviassch, Nieuwsblaad, 19 Februari 1940

Website

Wikipedia.org

colonialarchitecture.nl

japansburgenkampen.nl

japaneseciviliancamps.com

Wawancara

Overleven op het Internaat, 2011/09/07, wawancara dengan Ny. Aletta Berkholst

Lihat:

Sunarya Ishack penghuni kompleks tahun 1960an, Wawancara tanggal 8 Februari 2018

Kang Aris, penghuni kompleks sekitar tahun 1980an, Wwancara tanggal 10 November 2011

Lucky Noor Lukman, 2 April 2018

Haryanto Babenya Radit, wawancara 13 Februari 2016

*Narasumber adalah Ketua Riset & Kesejaharahan Paguyban Soekaboemi Heritages, Tulisan ini merupakan Laporan Penelitian Bangunan kompleks Gereja HKBP Sukabumi bersama Tim Peneliti Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten, 29 Maret 2018



[1] Wikipedia.org
[2] colonialarchitecture.nl
[3] Bataviaasch Nieuwsblaad, 19 Februari 1940
[4] Righni, Scova Bert, 2005, Een leven in twee vaderlanden: Een biografie van Beb Vuyk, KITLV Uitgeverij, Holland, Hal. 182
[5] Overleven op het Internaat, 2011/09/07, wawancara dengan Ny. Aletta Berkholst
[6] Lihat: japansburgenkampen.nl, dan japaneseciviliancamps.com
[7] Wawancara dengan Pak Ujang, saksi mata 10 Maret 2018.
[8] Overleven op het Internaat, 2011/09/07, Java Post
[9] Wawancara Sunarya Ishack penghuni kompleks tahun 1960an, 8 Februari 2018
[10] Wawancara dengan Kang Aris, penghuni kompleks sekitar tahun 1980an, 10 November 2011
[11] Haryanto Babenya Radit, wawancara 13 Februari 2016
[12] Keterangan Lucky Noor Lukman, 2 April 2018
SEJARAH POLRES SUKABUMI KOTA
Polisi Kota Sukabumi memiliki sejarah yang panjang seiring perjalanan sejarah polisi nasional. Bermula dari unit-unit polisi parsial yang menjaga beberapa area seperti polisi desa, ronda, opas polisi (Politiepasser) dan kepala keamanan (schouten) yang menjaga wilayah kota seperti pasar dan wilayah strategis seperti pendopo, bahkan ada petugas kemanan yang khusus menjaga asset pengusaha seperti penjaga keamanan di perkebunan-perkebunan Sukabumi seperti Sinagar, Goalpara, Perbawati. Sementara di desa-desa seperti Parungseah ditempatkan semacam pertahanan sipil yang ditugaskan karena kurangnya personnel polisi, semacam ronda yg terkoordinir, selain menjaga keamanan mereka harus mengurusi pencuri hingga masuk ke dan mengikuti BAP (Marieke Bloembergen: Polisi Zaman Hindia Belanda antara kepedulian dan ketakutan).
Pada masa tersebut secara umum wewenang kepolisian berada ditangan residen yang dibantu oleh asisten residen dimana rechts politie dipertanggungjawabkan pada procureur generaal (Jaksa Agung). Laporan-laporan polisi menjadi rujukan pengadilan seperti laporan polisi Sukabumi terhadap Said Achmad bin Moehammed As Sagaf tanggal 1 November 1865 di sukabumi. Dipersembahkan dengan segala hormat kehadapan Padoeka Toewan Direkteur PF Wegener, jang termadjelis di Soekaboemi, Kangdjeng Toewan Directeur Priksa Bapa Arnas, Toekang Besi Warangtjerme, Kotta Soekaboemi, nanti Padoeka Kangdjeng Toewan Directeur boleh dapat resia lebih panjang dan menoeroet dija poenja bitjara satoe kaboektian besar, dija tiada maoe bitjara dihadapan kangdjeng toewan assistent resident Soekaboemi, tetapi nanti maoe dihadapan perdata-perdata agoeng, karena takoet pada patih.... (Mencari Tuhan dengan Kacamata Barat karya Karel A Steenbrink).
Menjelang proses desentralisasi di Sukabumi sekitar tahun 1897, unit-unit keamanan kemudian  digantikan oleh Korps Kepolisian yang terintegrasi yaitu Gewapende Politie (Polisi bersenjata), meskipun begitu unit-unit keamanan mandiri masih tetap ada terutama untuk keperluan para pengusaha. Namun untuk keamanan masyarakat Tionghoa Kota Sukabumi yang menempati Chinesekamp (Jalan raya hingga jalan pelabuhan 2) diserahkan kepada seorang Kapitan Tionghoa yang sudah ditunjuk pada tanggal 7 Februari 1892, yaitu Sim Ken Koen (Melly G tan, Chinese of Soekaboemi). Untuk para penjaga malam, penjaga penjara (Gevangenis nyomplong), polisi khusus untuk opium, kopi, kehutanan, penjaga transportasi narapidana  dan mantri polisi dibawahi Polisi Gubernemen.
Perubahan status Kota Sukabumi menjadi Gemeente Pada Tanggal 1 April 1914 menyebabkan Kota Sukabumi menjadi mandiri, perubahan ini juga diikuti oleh kepolisian yang melakukan reorganisasi secara modern, sehingga kepolisian di Kota Sukabumi terdiri dari Stad Politie (Polisi Kota), Gewapende Politie (Polisi Bersenjata), Veld Politie (Polisi Lapangan), Bestuur Politie (Polisi pamong Praja), dan Cultuur Politie (Polisi Pertanian) yang mengamankan wilatah pertanian dan saluran irigasi masyarakat. Karena proses reorganisasi sangat yang cepat, menyebabkan fasilitas penunjang yang belum siap.  Kantor Polisi saat itu menempati sebuah bangunan bekas milik patih yang dibeli pemerintah pada bulan mei 1914 untuk nantinya dibangun kantor pos, namun selama belum dibangun maka bangunan tersebut difungsikan sebagai kantor polisi (Batavia's Nieuwsblaad Mei 1914). Sementara gedung afsdeling Bank (Bank Mandiri Sekarang depan capitol, sebelah kantor pos) mulai tahun 1914-1918 dipinjam oleh Gemeente untuk dijdikan kantor karena balaikota (stadhuis) belum dibangun.
Kondisi hampir sama terjadi di Markas Pusat Korps Polisi Bersenjata (Gewapende Politie) di Jalan Vogelweg (Bhayangkara-Cikal Bakal Sekolah Polisi) yang sudah dibeli pemerintah sekitar April 1912. Markas tersebut dibangun tahun 1912-1913, namun bangunannya masih dominan dari bahan bambu sehingga kurang layak. Pada bulan September 1912 Mako Polisi Bersenjata ini dihuni 1.200 orang termasuk keluarga, sehingga lingkungannya padat dan tidak higienis, seperti saluran sanitasi dan pembuangan limbah yang tidak jelas, mengakibatkan berjangkitnya wabah kolera dikawasan markas, sampai terjadi keempat kalinya. Dirumah sakit yang masih sederhana, ditemukan 30 orang dari 100 pasien menderita penyakit beri-beri. Bangunannya juga tidak memenuhi estetika dan merusak keindahan kota, sehingga muncul kritikan dari van Delden, pemilik Villa indah diisisi atas kawasan asrama, ia menggambarkan keadaan asrama yang  tidak higienis, kumuh, dan tidak adanya pembangunan yang memperbaiki kondisi asrama. Kritiknya sangat krass dengan menyatakan een min eevolle aftocht (mundur lebih terhormat) dan menganggap pemerintah tak punya uang. Semenjak itu kemudian di lingkungan markas pusat Korp Polisi bersenjata (Gewapende Politie)dilakukan perbaikan bertahap  mulai tahun 1917 sampai dengan 1919 dan mendirikan bangunan baru dengan bentuk yang lebih permanen, termasuk bangunan-bangunan berbentuk paviliun dan layak huni dilengkapi pembangkit tenaga listrik, gereja, dll.
Kota Sukabumi mengalami perubahan administrasi mengingat tanggal 24 April 1921 dibentuk pemerintahan Regentscha (Kabupaten) Sukabumi sebagai peningkatan Afdeling, untuk sementara kantor sekretariat dan dewan kabupaten ditempatkan satu atap dengan kantor polisi (di Kantor pos sekarang). Sementara itu perubahan terjadi pada tahun 1922 sampai 1924, pemerintah kolonial mengevaluasi keberadaan Korps Polisi bersenjata akibat kelesuan ekonomi yang berimbas pada penghematan, karena perannya dianggap berlebihan (overbodig) maka personilnya digabung ke Satuan Polisi Lapangan (Veld Polisi). Pada bulan Mei 1925 sehubungan dengan rencana penyusutan kepolisian bersenjata dan pengalihannya mejadi unit-unit lapangan, maka sejak 1925 banyak bangunan Depo Kepolisian Polisi bersenjata di Sukabumi tidak lagi terpakai. Bangunan Sekolah Polisi atau Veld Politie School akhirnya digunakan sebagai Sekolah Pelatihan Staf Polisi Umum yang dipindahkan dari Bogor. Maka, pada 25 Januari 1925 ditetapkan bahwa Sekolah Pelatihan untuk staf  Polisi Umum di Bogor dan markas pusat digabung salah satu organisasi dengan nama "Sekolah Pelatihan Staf Polisi", yang didirikan Di Sukabumi, Sementara Markas Veld Politie serta asramanya dibangun dan digunakan di degung jalan Cipelang.
Kondisi Sukabumi saat itu sedikit memanas akibat sabotase fasilitas umum, yaitu pemutusan kabel telepon di Palabuhanratu dan Cibadak pada tahun 1926. Pemimpin sabotase itu bernama Haji Siakoesih dari Cisande, distrik Cibadak dan Moegli alias Oeli dari Desa Parakanlima, distrik Cibadak. Selain kedua orang itu, sabotase juga dibantu oleh seorang opas dan seorang jurutulis polisi dari desa Lembur, selatan Sukabumi. Mereka kemudian ditangkap dan diadili. Untuk mengatasi hal yang sama terutama saat memanasnya kader-kader PKI sehingga pecah pemberontakan Komunis maka di Kantor Polisi dan juga di sekolah polisi untuk calon perwira diwajibkan melakukan simulasi perburuan dan pengejaran terhadap anggota komunis yang sedang mengadakan rapat gelap, mereka dikategorikan sebagai penjahat yang sangat berbahaya. Pekerjaan rumah tahunan siswa sekolah polisi adalah merancang rencana mobilisasi sebagai reaksi terhadap pecahnya pemberontakan masyarakat Sukabumi terhadap Polisi. Sementara untuk petugas polisis diadakan pelatihan polisi selama 9 bulan (De Indische courant 02-02-1927)
Tahun 1928 pembangunan kantor pos dimulai sehingga kantor polisi harus dipindahkan ke belakang toko de Gryd (Cikal bakal bioskop Indra), bersebrangan dengan dinas pemadam kebakaran. Setahun kemudian yaitu ahun 1929 Afdelingbank membangun gedung baru disudut lodjiweg (sekarang Bank BRI), sesudah bangunan selesai dibangun, afdelingsbank pindah dari gedung lama (Bank Mandiri A yani depan capitol) , gedung lama direnovasi dan dijadikan kantor polisi (Bataviaasch Nieuwsblaad 30 September 1929). Namun tetap muncul Keluhan ketidaklayakan kantor polisi saat itu sehingga diperimbangkan untuk mencari tempat baru yang lebih permanen (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië 19-08-1930). Kantor polisi semakin sibuk bahkan mulai bulan september 1931 sidang pengadilan landgerecht dilaksanakan di kantor polisi, tidak lagi di gedung pengadilan (Landraad). (Het nieus van den dag voor Nederlandsch indie 02 septemer 1931). Masalah-masalah kriminal semakin berat diantaranya Penemuan Morfin selundupan orang  jepang Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië 12-11-1931. Kondisi kantor polisi semakin kurang nyaman dimana pada masa-masa tertentu seperti musim hujan kurang nyaman, pernah terjadi Hujan deras dan pohon tumbang dibelakang kantor polisi menimpa sebagian kecil bangunan ( Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië 12-01-1932).
Pemeritah akhirnya melirik sebuah bangunan bekas inlandsche school dan europeesch school yang dijadikan kantor gemeente sementara , saat kantor gemeente selesai dibangun maka bekas sekolah tersebut kosong sehingga diputuskan pada tahun 1933 bangunan tersebut dijadikan kantor polisi yang sekarang menjadi Mapolresta Sukabumi. Peran polisi dalam penanganan kota semakin penting, saat itu kondisi Hindia Belanda mengalami malaise sehingga banyak tindak kejahatan, salah satunya adalah Perampokan di sekitar Odeon (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië 07-05-1935 ). Saat pecahnya perang Dunia I polisi Sukabumi dilibatkan untuk mencari orang-orang Jerman di Kota Sukabumi dan menggeledah setiap rumah untuk menemukan bukti keterlibatan mereka sebagai mata-mata (Soerabaijasch handelsblad 17-05-1940).
Kondisi Asia Tenggara saat itu semakin genting mengingat Jepang sudah melirik Hindia Belanda yang mempunyai sumber alam melimpah. Pada tanggal 24 September 1940 Kantor Polisi Sukabumi diperintahkan untuk melakukan pengamanan atas delegasi Jepang yang membawa 24 orang ke Hotel Selabintana dalam rangka perundingan antara Jepang dan Hindia Belanda yang dipimpin oleh Kobajashi dan dari Pemerintah Hindia Belanda adalah Van Mook. Rupanya perundingan tersebut mengalami kegagalan sehingga memberi jalan kepada jepang untuk menyerang Hindia Belanda dengan terlebih dahulu menghancurkan Pearl Harbor. Polisi juga disibukan dengan munculnya pejuang yang diasingkan di Sekolah Polisi yaitu Hatta dan Syahrir. Situasi ini kemudian terbukti setahun kemudian dimana Jepang menyerang Hindia Belanda dan membom Kota Sukabumi pada tanggal 6 september 1942. Markas Polisi Militer dibelakang mesjid Agung kemudian hancur berantakan sementara seluruh pejabat Belanda melarikan diri ke Bandung, termasuk pra polisi bergabung dengan tentara KNIL melawan Jepang namun hasilnya hancur berantakan, Jepang menyerah 9 Maret 1942.
Dua  hari kemudian Komisaris Polisi Asikin memberitahukan supaya asrama polisi tempat Hatta dan Syahrir ditahan agar dikembalikan fungsinya menjadi pada sekolah polisi. Namun Hatta menolak dan akan menyerahkan pada Jepang karena Belanda sudah tak berkuasa lagi. Jepang kemudian membentuk kembali badan kepolisian (Keisatsutai) . Merekrut kembali bekas polisi pribumi yang mau bekerjasama dan memfungsikan kembali Sekolah Polisi dan dirubah menjadi Djawa Geisatsu Gakko. Kepolisian dibagi menjadi 3 bidang tugas: Koto Kei Satsuka (DPKN atau Intelkam sekarang), Kei Mu Ka (Umum), dan Keizal Ka (Ekonomi) (Hoegeng: Oase menyejukan ditengah perilaku koruptif bangsa, Aris Santoso dkk, Mizan). Jepang juga membentuk badan-badan pelatihan pemuda untuk keperluan diantaranya Keibodan (Barisan Bantu Polisi). Keibodan dibawahi kepolisian dan Sukabumi Menjadi pusat pelatihan Keibodan (Sejarah Revolusi Kemerdekaan 1945-1949 di Yogyakarta, Tashadi, Proyek Inverntarisasi dan Dokumentasi sejarah Indoenesia 1991). Pada awalnya kepala Polisi Sukabumi diangkat seorang pribumi bernama Bustami, namun kemudian digantikan oleh perwira Jepang (Moehamad Roem 70 Tahun pejuang Perunding, bulan bintang, 1978, cabinet officers). Jepang kemudian memfokuskan semua sumberdaya untu keperluan perang, para polisi dan siswa sekolah polisi juga dikaryawakan untuk membuka sebuah lahan di Selabintana untuk keperluan Jepang. Jepang juga membangun Lapangan Inada (Danalaga Square sekarang) yang dipergunakan sebagai lapangan Sepakbola dan juga latihan tentara. Jatuhnya bom atom di Hiroshima dan nagasaki menandai berakhirnya kekuasaan Jepang di Asia Tenggara. Indonesia tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk memproklamasikan Kemerdekaan.
Pasca Proklamasi Kemerdekaan, kepolisian Sukabumi terlibat aktif dalam pengambilalihan kekuasaan. Di Sekolah Polisi Jepang masih bertahan, senjata dari sekolah kepolisian Sukabumi ke Markas tentara Jepang untuk menghindari perlawanan bersenjata. Inspektur Sekolah Polisi Raden Said Soekanto kemudian memaksa Jepang untuk megibrkan bendea merah putih dan mengembalikan senjata serta menyerahkan kekuasaan kepada pemerintah Indonesia, Jepang akhirnya menberikan 25 pucuk senjata untuk pengamanan namun meminta pengalihan kekuasaan terjadi sesudah munculnya pasukan sekutu, sementara merah putih boleh dikibarkan bersebelahan dengan bendera jepang. Said Soekanto kemudian berangkat dari Sukabumi menuju Jakarta dan menemui Bung Karno meminta pengambilalihan Sekolah Polisi, Bung Karno belum memberikan jawaban malahan mengangkat dia menjadi Kepala Polisi negara. Said Soekanto menginstruksikan untuk segera mengambilalih Sekolah polisi paling lambat 1 Oktober 1945 (Madjalah Pantja Warna 1956-perayaan ulang tahun Sekolah Polisi X 15 Desember 1955).
Panitia lima dibentuk di Kota Sukabumi  yang terdiri dari Suryana (BKR), Sukoyo (Kepolisian), S. Waluyo (KNID), Abdurrohim (Ulama), dan Ali Basri (perwakilan dari kecamatan). Rencana Panitia lima diantaranya:
1.      Membebaskan para Tahanan
2.      Mengibarkan Bendera Merah Putih di Seluruh Jawatan dan instansi, serta di pelosok kota dan kabupaten.
3.      Mengganti Kepala-kepala jawatan yang dipegang oleh Jepang untuk diganti degan orang indonesia.
Kepala kepolisian yang sedang menjabat bernama Sadeli dianggap tidak layak dan bukan polisi pejuang sehingga dilengserkan oleh masyarakat ( sekitar perang kemerdekaan Indonesia vol 2, AH Nasution, 1991). Pemerintahan Sipil dan Kepolisian yang dipimpin oleh Harun SH, R. Bidin Surya Gunawan, R. Muhyi, dan R. Adiwikarta. Pasca pengambilalihan kekuasaan terjadi beberapa kali bentrokan dnegan pasukan sekutu yang berpuncak pada bulan Desember 1945 terjadi pertempuran konvoi melawan pasukan Inggris yang tidak menepati perjanjian, Para polisi banyak yang bergabung dengan para pejuang dalam pertempuran. Terjadi banyak ketegangan dan saling curiga hingga muncul peristiwa pembunuhan Raden Ibrahim Sastranegara, adik penerbang dan pahlawan yang dijadikan nama bandara di Bandung. Ibrahim menjabat sebagai inspektur polisi Cicurug dan dituduh berkhianat.
Pada tanggal 1 Juli 1947 Belanda melakukan agresi militer ke Sukabumi, para pejuang melakukan politik bumi hangus. Kepala Kepolisian Sukabumi Bidin Suryagunawan dan pejabat kepolisian Bogor Sumbada bersama sebagian polisi kota menggabungkan diri dengan TNI membentuk markasnya di Nyalindung di bawah pimpinan Kolonel Kawilarang dan terus melakukan perang gerilya. Sekolah polisi mengungsi ke Gunung Buleud 20 km dari Kota Sukabumi kearah selatan. Para pejuang melakukan pengacauan dan juga membunuh orang-orang yang masih membantu Belanda termasuk para polisi. Pada tanggal 27 agustus 1947 terjadi pembakaran pabrik terjadi di cipenjeuh, lurah dan polisi desa citancam (cican-tayan) ditemukan tewas. Tanggal 9 september 1947 Pukul 8.15 pagi terjadi penyerangan di pabrik teh pada asih oleh lima orang kelompok bersenjata senapan otomatis. Pa entong (polisi perkebunan) tewas ditembak, lainnya luka-luka (Military archive).
Belanda kemudian memaksa para pejuang hengkang melalui persetujuan Renville. Para pejuang akhirnya hijrah ke Jawa Tengah dan Yogyakarta sehingga kota Sukabumi sepenuhnya dikuasai Belanda, namun masih ada sebagian pejuang yang bertahan. Pada masa itulah Belanda menguasai kepolisian dan membentuk laskar Poa An Tui yang terdiri dari masyarakat Tionghoa di Kota Sukabumi. Polisi digunakan untuk melumpuhkan akses Pejuang dan masyarakat diadu domba dan dihasut untuk tidak membantu pejuang. NICA kemudian membentuk pemerintahan vesi Belanda di Kota Sukabumi. Masyarakat termasuk juga polisi mulai terbelah ada yang berpihak kepada Belanda karena takut dan ada yang berpihak kepada para pejuang, Perpecahan ini terlihat hjelas saat para Pejuang kembali dari Jawa tengah (Long March) dan bergerilya di Sukabumi. Polisi bentukan Belanda pada akhirnya jadi sasaran serangan perjuangan seperti kelompokpimpinan desersir tentara Belanda yaitu Poncke Princen, melakukan serangan di pos polisi Baros yang berkekuatan 40 orang. Kepala polisi ketakutan sehingga sekitar 35 orang polisi dilucuti dan digiring oleh 7 orang  ke arah sungai. Di sana para polisi itu dibubarkan dan disuruh pulang, kemudian  melakukan penyergapan kembali di Pos Polisi Sukaraja. Serangan dilakukan pukul 2 malam. Penyergapan berlangsung tanpa perlawanan karena para polisi tidak siap, sekitar 40 orang polisi ditahan dan ditempatkan di kamp dekat gunung gede. Sementara sekolah polisi Sukabumi pada tahun 1948 berhasil mencetak polwan pertama sebanyak 6 orang yang dididik di sekolah polisi Sukabumi dan dilantik sebagai polwan pertama tahun 1951.
Pasca pengakuan kedaulatan desember 1949 pasukan Belanda hengkang dari Indonesia dan kepolisian Sukabumi dibentuk kembali. Pada masa itu polisi disibukan dengan gangguan keamanan dari gerombolan DI/TII yang seringkali masuk kota. Masyarakat ketakutan karena seringkali terjadi pencegatan sehingga moda transortasi hanya ada sampai pukul 6.0 sore, selepas itu jalanan sepi. Polisi terus berbenah, sejumlah anggota Mobrig (Brimob sekarang) menyelesaikan pelatihan mereka di sekolah polisi di Sukabumi untuk pertama kalinya. (De nieuwsgier 02-07-1951)
Pembangunan lambat laun dilakukan, Untuk sarana olahraga Sekolah Polisi Negara membangun sebuah stadion sepakbola (sekaligus atletik) pada awal 1950-an dan dibuka pada 22 Desember 1951. Stadion ini mempunyai tribune dengan kapasitas 1000 penonton dan music hall. (Aneka, Tahun ke III No.1 1 Maret 1952). Yayasan Pusat Pertukangan Besi Nasional di Cibatu pada 1953 giat melakukan pembuatan klewang polisi lengkap dengan werangka dan ikat pinggangnya sebanyak 2500 buah (Pikiran Rakjat, 31 Januari 1953). polisi sukabumi termasuk para siswa sekolah polisi juga diperbantukan dalam menumpas pemberontakan DI/TII di Gunung Gede dan Jampang. Sebuah patroli gabungan tentara dan Barisan Perintis sempat bertemu dengan pasukan sekitar 100 orang DI/TII dan terlibat pertempuran (Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie 04-04-1955). Pada tahun 1956 polisi menangkap Kepala perumahan Sukabumi ditangkap Bapak R. A. Dujeh Sutadipura atas tuduhan penyalahgunaan jabatan (Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie 07-09-1956). Polisi juga berhasil menangkap pengedar opium ilegal ditangkap Hari-hari ini seorang pedagang di Kebori Kalapa (Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode 15-08-1957).
DI/TII terus merajalela diantaranya di Sudajaya membakar kampung dan merampok tahun 1958Bulan September tahun  1961 Bupati Sukabumi versi DI/TII tertangkap di Cipelang. Tentara, Polisi dan Masyarakat kemudian bekerjasama membentuk operasi pagar betis di lereng Gunung Gede sampai akhirnya DI/TII bisa ditumpas. Pasca selesainya pemberontakkan DI/TII Polisi kembali disibukan dengan kerusuhan rasialis di Kota Sukabumi yang menghancurkan pasar, toko dan rumah-rumah. Kepala polisi Sukabumi melakukan hubungan telpon dengan Gubernur dan juga kepala polisi jawa barat untuk mengatasi kekacauan 1963 (Pilot proyek selo sumarjan). Sementara kepala sekolah kepolisian memerintahkan kendaraan-kendaraan yang dititipkan di parkiran sekolah didorong keluar karena ternyata tanpa seijinnya hanya dimasukan begitu saja. Selain itu muncul isu bahwa Guntur Sukarnoputra yang akan memimpin aksi terhadap warga Tionghoa dan sudah berada di Cianjur dengan dikawal polisi menuju Sukabumi. Peristiwa hari itu berakhir pukul 18.30. Pemerintah kota akhirnya memberlakukan jam malam. Namun keesokan harinya muncul pengrusakan yang diawali oleh anak kecil (pelajar SD) sehingga polisi hanya bisa menghalau mereka tanpa berani melakukan tindakan represif. Kejadian ini disusul dengan pengrusakan masal Dalam gelombang kedua ini mereka bukan saja membakar rumah dan toko tapi juga mobil-mobil, motor, gedung-gedung pabrik dan bangunan pasar, tembakan peringatan polisi sudah tidak dihiraukan. Terjadi kebakaran di kompleks pasar, di jalan pasar dan gang ikan yang mengakibatkan bangunan seluruh pasar dan bebrapa toko di tepi jalan pelabuhan habis terbakar. Keamanan bisa dipulihkan sesudah datang bantuan dari Bogor. Parapelaku kemudian ditangkap dan diadili.
Politik masa itu memanas sehingga polisi dilibatkan untuk pengamanan, Akhirnya beliau dibuang ke Sukabumi tahun 1964 tepatnya dikompleks sekolah polisi secapa. Tokoh politik dan ulama Buya diamankan ke Sukabumi. Sementara di masyarkat muncul saling curiga akibat konflik parta komunis dan partai anti komunis. Sementara peran spionase PKI di Sukabumi juga terbukti dalam Mahmilub dengan ditemukannya surat-surat Sudisman (Anggota CC PKI) beserta denah (Plattegrond) sekolah polisi Sukabumi dalam arsip SBKP (serikat buruh kementrian pertahanan) yang berisi beberapa petunjuk untuk menguasai Sekolah polisi. Sukabumi juga menjadi bagian dari skenario pemberontakan yang diatur Sjam Kamaroezaman (Djawa adalah Kuntji), yaitu bilamana pemberontakan gagal maka ada 3 basis pengunduran yaitu Sukabumi Selatan, Merapi Merbabu Complex dan Blitar Selatan.
Kegagalan aksi  G 30/S/PKI menjadikan Sukabumi menjadi tempat pelarian, diantaranya Sumiyarsih yang dijuluki Dokter Lubang Buaya tertangkap dan diinterogasi di Kantor Polisi sukabumi. Ketegangan belum usai karena terjadi aksi pengambilalihan aset-aset masyarakat Tionghoa di Sukabumi seperti gedung pertemuan Kong So dan Sekolah Tionghoa. Suasana baru sesudah tumbangnya orde lama seolah terlepas dari kekangan, terjadi euforia kaum muda dari akademisi yang sangat kritis, misalnya dalam kasus Rene Conrad Mahasiswa ITB yang tewas dikeroyok Taruna Akpol pada tahun 1970, kasus yang merenggangkan hubungan mahasiswa dan militer ini sempat membuat aksi long march Ketua Dewan Mahasiswa  ITB, Syarif Tando dan mengadakan demonstrasi bersama mahasiswa dan pelajar dari Bandung di depan Akademi Kepolisian (Akabri-Polisi) di Kota Sukabumi.
Pada tahun-tahun berikutnya persoalan kota menyangkut masalah antar gang, muncul nama-nama gang seperti Silbra, Alcanza, Meses, Saloka, Tipar,dan lain-lain. Mereka sering berseteru satu sama lain dan berkelahi sehingga beberapa diantaranya terluka bahkan tewas untuk mempertahankan kehebatan gangnya. Isu keamanan terkadang muncul dari peristiwa di sekitarnya, misalnya pada tanggal 20 April 1979 ada kabar yang beredar di Sukabumi bahwa seorang penjahat kelas kakap yang konon juga disebut Robinhood karena sering merampok toko emas dan membagikannya ke masyarakat, tertangkap di Gunung Guruh yaitu Johny Indo. Johny yang saat itu dicari-cari pihak keamanan karena ulahnya yang sering merampok dengan kelompoknya pachinko (pasukan Cina Kota), rupanya bersembunyi di Gua Kutamaneuh Gunung Guruh sambil bertirakat, namun ternyata keberadaannya terendus koramil Gunung Guruh dan langsung dilakukan perburuan hingga tertangkap dan dibawa ke kantor polisi Sukabumi sebelum akhirnya dibawa ke Nusakambangan.
Tiga bulan kemudian warga Kota kembali dihebohkan dengan berita pembunuhan berdarah dingin yang dilakukan tentara Edi Sampak yang menewaskan 5 orang dan empat luka parah. Korban tewas adalah Sersan Sutardjat, Daeng Rusyana, Djudjun, Sugandi, dan seorang lelaki. Sersan Mayor Sutardjat, yang merupakan juru bayar Kodim 0608 Cianjur, bertugas mengambil gaji pegawai di Bank Karya Pembangunan, Sukabumi, Jawa Barat. Eddy dibantu Odjeng kemudian memberondong mereka di perkebunan Gekbrong dengan senjata Carl Gustaf. Eddy Sampak diburu dan akhirnya ditangkap seminggu kemudian di Cigintung. Sayangnya Eddy berhasil melarikan diri dari Rumah Sakit tahanan Militer Cimahi dan menghilang tanpa jejak. Pada era tahun 1980-an juga sempat santer tentang petrus alias penembak misterius, biasanya sasarannya para preman yang ditembak dan dibuang seenaknya, istilah masyarakat “dikarungan”, hal ini karena merajalelanya preman sehingga Presiden Suharto membuat operasi khusus. Banyak mayat yang ditemukan di jalan Plabuan, di pabuaran atau diluar Kota seperti Gegerbitung, Sukaraja, Cipriangan misalnya yang dibawa ke Kota oleh polisi sesudah ditemukan masyarakat.

Daftar Pustaka
·         ANRI, 2014, Citra Kota Sukabumi dalam Arsip, Arsip Nasional Republik Indonesia
·         Disjarah TNI AD. (1985). Penumpasan Pemberontakan DI/TII S. M. Kartosuwiryo di Jawa Barat. Bandung: Disjarah TNI AD, hlm. 118. 3 Disjarah TNI AD. (1972). Cuplikan Sejarah Perjuangan TNI Angkatan Darat. Bandung
·         Gunseikanbu, 1986, Orang Indonesia Jang Terkemoeka di Djawa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, Indonesia,  Indonesia,
·         Jaya, Ruyatna, 2002,  Sejarah Sukabumi, PEMDA [Pemerintah Daerah] Kota Sukabumi.
·         Stinnett, Robert, Day Of Deceit: The Truth About FDR and Pearl Harbor,  Mook, Hubertus, 1944, The Netherlands, Indies and Japan: Their Relations 1940-1941, G. Allen & Unwin ltd, London
·         Soemardjan, Prof. Selo, 1963, Gerakan 10 Mei 1963 di Sukabumi, PT. Eresco Bandung
·         Tan, G Melly, 1963, The Chinese of  Sukabumi: a Study in Social and Cultural Accomodation, Ithaca, New York
·         Iskandar, Yoseph, Dedi Kusnadi, Jajang Sriyani, 1997, Pertempuran Konvoy Sukabumi-Cianjur 1945-1946, Sukardi LTD Ptd, Jakarta
·         Lestariningsih, Amurwani Dwi, 2011, Gerwani: Kisah Tapol Wanita di Kamp Platungan, Kompas, jakarta
·         Steenbrink, Karel, 1988, Mencari Tuhan dari Kacamata Barat Vol.1, IAIN Kalijaga Press, Yogyakarta
·         Iskandar, Yoseph, Perang Konvoi Sukabumi-Cianjur 1945-1946, Mata Padi, Jakarta
·         Firmansyah, Irman, Soekaboemi the Untold Story, Yayasan dapuran Kipahare, Sukabumi 2017.
·         ___________, Kota Sukabumi: Menelusuri Jejak Masa Lalu, Soekaboemi Heritages,SUkabumi, 2017
·         Tanumidjaja, Irjen Pol Memet, 1971, Sejarah Perkembangan Angkatan Kepolisian, Departemen Pertahanan Keamanan Pusat Sejarah Abri, Jakarta
·         Bloembergen, Marieke: Polisi Zaman Hindia Belanda antara kepedulian dan ketakutan, KITLV, Jakarta, 2009
·         Nasution, AH, sekitar perang kemerdekaan Indonesia vol 2, Jakarta, 1991
------ Sebagian hasil penelusuran Wa Achmad Soleh tentang letak kantor polisi
------ Foto Kang Joni Janaka

SEJARAH PERKEMBANGAN KOTA SUKABUMI
Oleh: Irman "Sufi" Firmansyah
Kepala Riset & Kesejarahan Soekaboemi Heritages
Ketua Yayasan dapuran Kipahare
Kota Sukabumi memiliki perkembangan sejarah panjang yang menarik. Wilayah yang kini sudah berkembang dengan segala persoalannya ini telah melewati labirin waktu yang berliku. Dalam sejarah yang membentang selama ribuan tahun, Kota Sukabumi seolah menjadi laboratorium kehidupan, dimana setiap zaman dan generasinya telah mewariskan pergulatan kisah dan persoalan yang bisa kita ambil hikmah. Berbicara tentang Sejarah Perkembangan Kota Sukabumi harus diawali dengan memaknai kembali istilah kota. Makna Kota sebenarnya tak sekedar kesatuan administratif belaka, kota adalah tempat tinggal dengan segala infrastrukturnya, kota adalah pusat dari berbagai jaringan/network mulai dari pemerintahan, pasar, pendidikan, kesehatan dan sebagainya, sehingga jika kita berbicara kelahiran Kota Sukabumi sebagai pusat jaringan kehidupan masyarakat, maka kota bukan berawal dari penetapan pemerintah, tetapi jauh dari itu kota sudah ada sejak  menjadi pusat dari berbagai jaringan. Wilayah administratif Kota Sukabumi yang kita tinggali secara luasan bukanlah bekas wilayah gemeente Soekaboemi, tetapi bekas distrik (Kawedanaan) Soekaboemi yang didalamnya ada onderdistrik (Kecamantan) Sukabumi atau sebelumnya disebut distrik Goenoeng Parang yang ditetapkan tahun 1776.  Perbatasannya lebih luas dari wilayah kota sekarang, perbatasan barat di Cimahi, perbatasan utara di Perbawati, perbatasan selatan di Wangunreja dan perbatasan timur di Cimangkok. Tahun 1882 distrik Gunung Parang ini terbagi dalam 3 onder distrik yaitu Sukabumi, Sukaraja dan Baros, kemudian tahun 1913 distrik Gunung Parang berubah nama menjadi distrik Sukabumi dengan onderdistrik Sukaraja, Baros dan Cisaat, sementara Kota Sukabumi dipersiapkan sebagai gemeente (Firmansyah:2017).

Saat ini kita mengenal batas wilayah dengan batas alam seperti sungai, bukit, gunung dan lain-lain, namun pada masa lampau terutama jaman Megalitikum, wilayah entitas ini ditandai dengan Menhir yang diinterpretasikan sebagai perkawinan langit dan bumi yang memungkinkan tempat tinggal manusia bisa dibangun. Konon keberadaan menhir memberi petunjuk kepada orang asing bahwa wilayah sekitarnya telah menjadi wilayah bertuan (Wiryomartono; 1995). Dalam skup lebih kecil terutama saat menandai pembukaan sebuah kampung, budaya ini disebut ungkal biang (semacam peletakan batu pertama). Jika kita mencoba memetakan batas entitas ini di masa Megalitikum, maka terdapat kesamaan relatif dengan batas wilayah distrik Soekaboemi. Bisa kita temukan sebelah barat ada peninggalan Menhir Batu Kabayan di Cisaat, kemudian di sebelah timur ada Menhir di Kampung Tugu Sukaraja, di sebelah selatan ada kampung Tugu di Baros meskipun menhirnya belum ditemukan tapi secara toponimi menunjukan keberadaan Menhir disitu, di sebelah utara belum ditemukan Menhir sejenis, namun kita bisa menduga bahwa wilayah ini sudah dihuni dan ditandai sejak masa lampau. Mereka berkumpul dekat sungai-sungai mengaliri tanah yang subur terbentang dari Cisaat hingga Sukaraja. Kesuburan wilayah ini menurut Jan Casper Philips karena Gunung Parang terbentuk dari lahar yang dihasilkan ledakan perut bumi Gunung Gede. Air merupakan prasarat utama sebuah kota, bahkan kota peradaban di dunia biasanya ada di sekitar sungai yang menyediakan air untuk kehidupan.
Pada awalnya batu mendominasi hasil budaya manusia disini, kemudian masuknya pendatang dari Yunan mengenalkan budaya serta citarasa baru yaitu logam dan juga perhiasan. Dalam catatan NJ Krom tahun 1904 di Kota Sukabumi ditemukan sebuah patung perunggu Amoghapaca dengan prasasti dari raja Kartanegara dan sebuah gagang cermin berisi prasasti, benda-benda ini dimiliki Dr. Widerhold. Masuknya para pendatang ini juga memunculkan peradaban baru yaitu terbentuknya sistem administrasi kerajaan. di Rawa Uncal Sudajaya ditemukan senjata kebesaran dari perunggu yang menunjukan adanya kerajaan dengan pasukannya. Seiring kedatangan para pendatang dari India terutama kedatangan duta keliling Dewawarman sebagai tonggak, muncullah tata pemerintahan di Tatar Sunda yang ditandai oleh munculnya Kerajaan Salakanagara dimana Sukabumi masuk menjadi bagian mandala Tanjung Kidul. Tak ada informasi mengenai kondisi Sukabumi pada masa ini, namun di masa kerajaan Tarumanegara Raja Suryawarman dan iring-iringannya, sekitar tahun 526 M, memasuki wilayah Sukabumi untuk menuju Kendan (Nagreg) yang dihadiahkan kepada Resi Manikmaya. Sementara pada masa kerajaan Sunda sebuah prasasti bertahun 1030 M, di Cibadak beberapa kilometer arah barat Kota Sukabumi menjadi pintu masuk terkuaknya sejarah Sunda. Sejarah yang mengurai kisah yang rumit antara raja-raja Sunda dan raja Jawa, Bali bahkan Sumatera.
Munculnya kerajaan Pajajaran dengan tokoh Prabu Siliwangi yang memenuhi kisah-kisah sejarah di seantero Jawa Barat termasuk di wilayah Kota Sukabumi. Terdapat dua tempat yang konon menjadi persinggahannya yaitu Kutawesi (Kampung Kuta) dan Kutamaneuh (Gunung Guruh). Mitos-mitos tentang Prabu Siliwangi sering muncul disitu. Nama kampung Kuta (Kutawesi) masih terekam dalam peta Belanda tahun 1898 yang menunjukkan Kampung Kuta dikelilingi lima kampung Benteng dari beberapa arah, seolah menegaskan konsep kota kuno yang di kelilingi benteng (city wall).  Jikalau dugaan keberadaan Kota Benteng ini benar, maka dimungkinkan kota ini hancur saat serangan Banten ke timur pakuan. Pasca buraknya Pajajaran, pelarian dari Pakuan ke wilayah Sukabumi terbagi dua, pertama masyarakat biasa yang mengungsi ke selatan sekitar pelabuhanratu dan hutan halimun, kedua para pembesar dan prajurit lari ke arah Kota Sukabumi sekarang, Cikembar dan Jampang. Keberadaan kuburan Mbah Terong Peot, Kandaga Lante yang bertugas membawa mahkota Binokasih ke Sumedanglarang,  di Dayeuhluhur seolah menjadi bukti tentang keberadaan para prajurit ini. Gerhardus Heinrich Nagel dalam buku Schetsen uit mijne Javaansche portefeuille 1828 menyebutkan bahwa nama Gunung Parang bukan berasal dari perkakas parang tetapi berasal dari tempat yang menjadi ajang Perang (Gunung Perang). Jika dikaitkan dengan kemunculan wilayah Gunung Guruh di era awal kolonial (Kunjungan Scipio 1687), maka dimungkinkan masyarakat Kota Sukabumi (Kutawesi) yang diserang pasukan Banten mengungsi ke wilayah Gunung Guruh (Kutamaneuh) sehingga wilayah Kota Sukabumi kosong. Kondisi ini berangsur-angsur pulih, masyarakat kembali menghuni wilayah Kota Sukabumi pasca dibukanya Babakan Gunung Parang oleh Wangsa Suta. Kisah Legenda pada masa imperium Mataram ini seolah terlegitimasi dengan keterangan dalam kisah Volks en Volkunde tentang kisah Demang Kartala masa Mataram sebagai cutak Mangkalaya yang berkedudukan di Dayeuhluhur. Bahkan sebagian masyarakat mempercayai sebuah makam di kampung kuta yang disebut Bayah Suta sebagai makam pendiri babakan Gunung Parang bernama Embah Jaya Suta. Pada masa Mataram hingga kolonial berdatanganlah para pendakwah Islam sehingga banyak peninggalan-peninggalan makam kuno di Kota Sukabumi baik pelarian pasukan mataram ataupu pendakwah khusus dari Cirebon dan Banten diantaranya Mama Sanyur, Syekh Mursyi, Eyang Kutawesi, Adipati Mataram, Jaya Suta, Saofidin Al Matromy, Eyang Bale Rante, Mbah Jayaprana, Eyang Kuning, Mbah Kumpul, Aliyin Aliyudin, Mama Jupri, Eyang Dalem Sakti dan Dalem Suryadiningrat.
Kedatangan bangsa Eropa yang merubah misi dagang menjadi penguasaan wilayah, menyebabkan kemunduran Mataram. Secara resmi wilayah selatan Gunung Gede hingga Basisir Kidul dikuasai maskapai dagang (VOC) pada tahun 1677, meskipun faktanya baru sepuluh tahun kemudian seorang sersan VOC (Scipio) dan Letnan Tanudjiwa (pendiri Kampung Baru Bogor) melakukan ekspedisi ke Gunung Guruh pada tahun 1687. Kemudian Gunung Parang dijadikan perkebunan tanaman komoditas Internasional yang cukup berhasil sehingga Gunung Parang menjadi sebuah distrik pada tahun 1776. Perilaku Korup pejabat VOC akhirnya menyebabkan kekuasaan beralih ke tangan Perancis karena negeri Belanda dikuasai Perancis. Upaya VOC memindahkan sisa kekuatannya ke Pelabuhanratu berakhir sia-sia karena Daendels datang dan mengurusi administrasi dengan tangan besi. Masa Daendels merupakan tonggak masuknya kelompok kecil orang Tionghoa ke Kota Sukabumi untuk dijadikan pekerja perkebunan (Tan:1957). Namun kemudian kekuasaan beralih ke tangan Inggris pasca serangan besar-besaran. Penyerangan yang menyebabkan Inggris hampir bangkrut itu akhirnya memberikan Ide Raffles sebagai penguasa baru untuk menjual beberapa wilayah-wilayah di Jawa kepada Swasta termasuk Sukabumi yang dijual kepada Andries De Wilde pada tahun 1813. Penjualan inilah yang pada akhirnya mengangkat nama Sukabumi kepada khalayak pasca ditetapkannya nama yang diajukan para kokolot oleh Andries de Wilde dan dicantumkan dalam seluruh laporannya. Lambat laun para traveller yang datang ke Sukabumi serta para pejabat seperti Raffles, Joseph Arnold, Reindwardt mulai menggunakan nama Sukabumi selain Gunung Parang.
Melalui pengelolaan perkebunan yang berhasil, Cikole yang sebagai tempat tinggal Andries De Wilde menjadi pusat pengumpulan hasil perkebunan mulai dari kopi, padi, pala, lada dan Tarum/nila. Gudang-gudang kopi berjejer di sekitar jalan yang masih disebut jalan Gudang hingga sekarang. Menurut keterangan para traveller saat itu di Sukabumi sudah ada fasilitas berupa pemandian air panas dan homestay, ada juga forum pertemuan para petani yang rutin bulanan di rumah Wilde (sekarang  SD kehidupan baru). Urusan wakaf mesjid juga dibahas para imam termasuk pengiriman imam ke Mekkah untuk beribadah haji, wakaf yang dilakukan diantaranya mesjid Agung sekarang dan sebuah mesjid di Rambay. Urusan perawatan jalan menjadi perhatian Wilde, infrastruktur jalan untuk distribusi kopi diperbaiki dan membuat saluran irigasi. Status Sukabumi sebagai Vrijeland memberi keleluasaan Wilde untuk mengelola sendiri tanpa campur tangan Bupati Cianjur.  Jika ada traveller datang maka Wilde yang ditemui di Sukabumi bukan bupati Cianjur. Wilde juga melakukan Budidaya keledai dan kuda untuk kuda militer. Tahun 1821 Wilde membudidayakan Kerbau, Sapi dan Banteng, dan sapinya dikenal Sapi terbersih (Wilde:1830). Mulailah muncul urbanisasi dimana masyarakat kampung-kampung sekitar memasuki area Gunung Parang untuk mendapatkan pekerjaan ataupun untuk berdagang, ada pola baru berupa kompensasi/upah pada masa ini yang diimplementasikan Raffles. Mulailah embrio fungsi kota terbentuk meskipun secara fisik hanya berupa kampung. Dalam skup kecil inilah kota awal secara sosial terbentuk, karena pusat administrasi Vrijeland ada disini. Ibarat kelahiran manusia yang diberi nama, kota tidak langsung lahir sebagai kota dewasa tetapi lahir dalam bentuk kecil namun memenuhi syarat kota sebagai jaringan dintaranya ketersedian air, surplus pangan, dan infrastruktur jalan (Horton dan Hunt:1990), yang dilegitimasi dengan nama bayi "Soeka Boemie" yang diusulkan masyarakat.
Beralihnya kekuasaan kepada pemerintah Hindia Belanda menjadikan wilayah Sukabumi masuk kembali kepada sistem Tanam paksa yang dicanangkan Van Den Bosch pada tahun 1830. Sebagian masyarakat lari ke selatan sehingga sebagian wilayah kota ada yang kosong (tarikolot), budaya tipar juga ditinggalkan dan tinggal nama kampungnya. Disisi lain nama Sukabumi semakin bersinar karena banyak orang-orang besar yang berkunjung ke Kota Sukabumi dan menyebut tempat ini sebagai town atau kota kecil (Basil:1893). Meskipun secara administratif hanya berupa hoofdplaats (bale desa) sebagai ibukota distrik Gunung Parang, Sukabumi situasinya sudah seperti standar kota, sudah dibangun  dengan pagar batu putih di kedua sisi jalan yang menghiasi hampir di sepanjang jalan. Saat itu di Sukabumi sudah ada yang berjualan bir, harga satu botol bir di Sukabumi lima gulden, dan transportasi utama dengan menggunakan kuda (Crockewitt:1866).  Dalam catatan resmi pemerintah juga menyebut Sukabumi sebagai Kutta. Misalnya dalam laporan polisi pada 1 November 1865 di Sukabumi, disebutkan sebagai berikut: “Dipersembahkan dengan segala hormat kehadapan Padoeka Toewan Direkteur PF Wegener, jang termadjelis di Kotta Soekaboemi (Steebrink:1988).
Lambat laun sesuai keperluan dan tonggak dihapuskannya tanam paksa maka Sukabumi dipisahkan secara Afdeling dari Cianjur dan menjadikan Kota Sukabumi sekarang menjadi Ibukota Afdeling. Perubahan ini tidak merubah status Sukabumi yang berada di bawah Kabupaten (Regentschap) Cianjur. Penataan ini juga menyambut era baru perkebunan swasta yang memerlukan tempat administrasi sekaligus tempat hiburan yang dekat. Mulailah dibangun kota kolonial awal berupa pencampuran konsep tata kota tradisional dan kolonial yang dikembangkan ahli Geografi Hp. H. Th Witkamp (Wartheim:1958). Alun-alun menjadi pusat dengan pohon beringinnya, kemudian di selatan rumah asisten residen dan patih di sebelah timur tidak jauh dari alun-alun, sebelah barat mesjid, sebelah utara tempat hiburan bangsa Belanda dan sebelah timur tempat tinggal orang Eropa atau Tangsi militer/polisi. Dibangunlah bangunan fungsional seperti Pendopo, Penjara, Pengadilan, Mesjid Agung, Kantor Polisi bahkan penataan Alun-alun yang kemudian dipecah dengan Victoria Park yang sekarang menjadi Lapang Merdeka. Dibangun pula Kantor dan rumah Asisten Residen, kantor dan rumah Patih, selain itu kantor untuk controleur, politieopziener 1e klasse, dan bangunan lainnya.
Tak lama kemudian dibangunlah jalur kereta api yang memicu distribusi barang dan manusia dengan mudah dan cepat sehingga semakin banyak orang eropa dan lokal yang berbondong-bondong ke Sukabumi dan menjadi titik perkembangan selanjutnya yaitu Desentralisasi. Masuklah orang Tionghoa dalam jumlah besar yang awalnya hanya pekerja rel kereta api yang tinggal di bedeng-bedeng sekitar stasiun. Sungai-sungai dan selokan yang banyak melintas dibuat gorong-gorong dan ditimbun. Para pelancong lebih banyak berdatangan hingga para bangsawan Eropa seperti Arthur Earle, Frank G. Carpenter, Eliza Ruhamah Scidmore, FS Kelly, George Roshenshine, William Worsfoldm Frans Ferdinand, Arthur C. Bicknell, Raja Chulalangkorn, AG Voderman, Clockener Brouson Frans Bernard, Edmond Eduard, Pangeran George II, dan Nicholas II. Orang-orang Eropa juga menginginkan sebuah tempat yang bisa mereka untuk kongkow-kongkow dan dibangun Societeit Soekamanah yaitu Gedung Juang. Orang-orang kaya Eropa pemilik perkebunan di Sukabumi sangat dihormati, bahkan di Bandung disediakan reservasi khusus untuk mereka. Jika mereka mau belanja disebut naar boven yaitu naik ke Bandung. Sementara orang Batavia kalo mau rekreasi disebut naar boveden alias turun ke Sukabumi bukan ke Bogor. Restoran dan toko coklat terbaik seperti Schuttavaer yang pernah dikunjungi Pakubuwono X serta raja Thailand juga tersedia disini. Pembangunan hotel Ploem, hotel Victoria. Hotel Selabintana mengantisipasi melonjaknya pengunjung kesini. Hotel Victoria jadi langganan Gubernur Jendral ada waktu weekend diantaranya O Van Rees (1884-1888) dan Pijnacker Hordijk (1888-1893). Bahkan saat Raja Thailand berkunjung ke Sukabumi semua hotel penuh hingga dia menginap di rumah seorang asisten residen. Dibangun pula Kantor dan Fasilitas umum seperti Kantor telepon dan telegraf, Pemakaman Umum Kerkhof, Klenteng, Gereja, Mesjid Agung.
Era ini ditandai pula dengan pembangunan fisik dan non fisik akibat politik etisch, munculnya sekolah-sekolah seiring munculnya cendekia dan orang profesional, Muncul orang-orang terdidik yang jadi penulis seperti Charles Du Pont, Rie Cramer ilustrator, ada pula pesepakbola Belanda G Mundt, Ahli Ekonomi dunia Gonggrijp yang disetarakan dengan Adam Smith. Kemudian dibangun irigasi dibuktikan dengan banyaknya talang air di Sukabumi pada masa lalu untuk mengalirkan air dari utara ke selatan. transmigrasi juga dicanangkan oleh Asisten Residen Sukabumi sehingga ada banyak nama tempat Sukabumi di Sumatera, bahkan orang Sukabumi banyak yang dikirim ke Suriname sebagai kuli kontrak. Selain itu di Kaledonia ada Taman yang dinamai oleh nama orang Sukabumi yaitu Taman Mohammad Kasim. Kota ditata berdasarkan suku bangsa Eropa dan Indo, Tionghoa dan Pribumi yang disebut politik segregasi. Masyarakat pribumi saat itu yang mayoritas Islam kemudian dianggap sebagai radikal dalam beberapa laporan, disisi lain masyarakat Eropa sangat leluasa bahkan muncul pula gerakan Freemasonry "De Hoeksteen" yang disebut masyarakat saat itu sebagai pemuja setan.
Orang Eropa semakin banyak dan mereka merasa Kota Sukabumi tidak seperti di Eropa yang tertata baik, untuk pembangunan saja harus minta persetujuan panjang hingga ke Gubernur Jendral. Inilah tonggak awal pengaturan administratif secara langsung oleh pemerintah kolonial. Aspirasi ini kemudian berkembang sehingga diputuskan status Gemeente Soekaboemi pada  1 April 1914 yang dijadikan hari lahir Kota Sukabumi. Gemeente ini disebut sebagai Kota Eksklusif karena orang Eropa tidak mau di bawahi patih maupun Bupati lokal, bahkan disebut juga sebagai European Enclaves (Kantung Eropa) karena menjadi hunian para orang Eropa yang independen dari kekuasaan Bupati Lokal. Jika melihat perspektif hukum Tata Negara, maka Kota Sukabumi lebih dulu lahir dari pada Kabupaten Sukabumi karena lahir dari rahim Kabupaten Cianjur bukan dari Kabupaten Sukabumi yang baru ada sejak tahun 1921. Pasca menjadi gemeente inilah terjadi pembangunan besar-besaran dibawah Asisten residen yang yang disebut Soekaboemi Vooruit (Sukabumi melangkah). Pembangunan ini melibatkan arsitek-arsitek tersohor di nusantara seperti Thomas Karsten, Aalbers, Ghijsels, Maclaine Pont. Bangunan swasta bermunculan seperti Gedung Bouw Mij (Capitol), Kantor Pos, Kantor telepon, Bioskop, Pom Bensin, Pabrik es sari petodjo, apotik gedeh, Machine Fabriek. Kemudian elektrifasi kota, pengadaan air ledeng, Pembangunan Rumah sakit Gemeente, pemasangan lampu jalan, relokasi pemukiman Tionghoa dari sekitar stasiun ke sekitar gang peda dan gang tek wat, perbaikan jalan, perbaikan gorong-gorong drainase, renovasi bangunan gewapende politie (cikal bakal sekolah polisi) dan lain-lain. Pasca diangkat Rambounet sebagai Burgemeester, kemudian dibangun Gedung Balaikota (Stadhuis) dari bekas rumah Koh Ek tong. Pasar dimodernkan dengan gerbang indah. Gorong-gorong ditambah untuk antisipasi banjir, muncul banyak hotel dan termasuk tempat hiduran, golf, pacuan kuda hingga kolam renang seperti Hotel, Wanasari, Broderij Cramer, Prana, Hotel Pensiun dan lain-lain.
Secara adminsitratif pada tahun 1935 Kota Sukabumi dibagi menjadi wilayah utara dan selatan (Wijk A dan Wijk B). Masa ini juga ditandai dengan dikenalnya Sanatorium Selabatu sebagai tujuan wisata medis (medical tourism) seasia tenggara dan menjadi tujuan berobat orang-orang Malaysia dan Singapura. Sekolah pertanian juga menjadi tujuan anak-anak para pejabat dan bangsawan nusantara untuk belajar, bahkan bibit teh terbaik dihasilkan dari sekolah ini dan diekspor ke perkebunan-perkebunan se Asia Tenggara. Industri Penerbangan nusantara berawal dari Kota ini juga dengan percobaan pesawat dari bambu dan kulit sapi oleh Mr Onen. Kelompok Catur (Schaakclub) juga sempat berkembang baik sehingga seorang Grandmaster belanda yang jadi juara dunia yaitu Dr. Max Euwe berkunjung ke Kota Sukabumi pada bulan September 1930, selain itu ada kunjungan juga dari Grandmaster dan juara catur keempat yaitu Alexander Alekhine pada tahun 1933. Sekolah-sekolah lain juga berkembang seperti Sekolah Sekolah Eropa, Tionghoa dan Pribumi. Dalam bidang industri produk kayu kibodas menjadi produk home kit yang dipakai di Boven Digoel dan beberapa negara Eropa. Selain perkembangan fisik, Kota Sukabumi juga menjadi tempat Pembuangan para Pejuang nasional diantaranya Karanjalemba, Paralente dan Mahasuri dari Sulawesi Tengah, kemudian Ayahnya Buya Hamka (Haji Rasul), Dr. Tjipto Mangunkusumo, Bung Hatta dan Syahrir.
Perang pasifik pecah sesudah kegagalan perundingan di Selabintana antara Van Mook dan Kobajashi bulan September 1941. Saat Jepang masuk ke Kota Sukabumi (disebut Shi Soekaboemi) banyak bangunan-bangunan dihancurkan oleh serangan pesawat tempur Jepang. Kondisi Kota menjadi merosot karena situasi peperangan antara Jepang dan Sekutu, bahkan sempat terjadi kekacauan di Kota. Desa Citamiang berdasarkan Bogor-Syurei tanggal 15 Nopember 1942 No. 1 dimasukkan ke dalam wilayah Shi Sukabumi. Penentangan Mr. Sjamsoedin terhadap kebijakan Jeopang dalam Chuo Sangi In ternyata menyebabkan dirinya diangkat sebagai Walikota Sukabumi. Situasi Kota labat laun teratur, kendaraan sempat tak beroperasi kemudian beroperasi kembali seperti De Zonen dengan jurusan pelabuhanratu dan Tan Lux dengan jurusan Jampang. Kota Sibuk mengurusi urusan dukungan perang yang menyengsarakan masyarakat mulai dari gerakan POETRA yang dicetuskan empat serangkai (Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara dan KH. Mas Mansyur) di Hotel Selabintana Desember 1942. Warga Sukabumi dikirim sebagai Romusha ke Rumpin, Banten selatan dan para wanita dijadikan Jugun Ianfu. Pembangunan nyaris tidak ada hanya pembanguan Lapangan Inada tahun 1943 yang kemudian hari menjadi lapang danalaga untuk kebutuhan olahraga. Semua pengusaha diikat dalam asosiasi-asosiasi yang ujungnya diminta membantu Jepang dalam peperangan. Bioskop menjadi alat propaganda, termasuk layar tancap di alun-alun Sukabumi, bahkan ulama dikumpulkan di Pendopo Sukabumi untuk mendukung Jepang. Namun sisi positifnya Jepang mengajarkan bentuk kedisiplinan militer, serta melatih para pemuda kemiliteran yang dikemudian hari sangat berguna ketika mempertahankan kemerdekaan. 
Pasca kekalahan Jepang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan 17 Agustus 1945, masyarakat Sukabumi berkumpul di lapang Victoria (sekarang lapang merdeka) pada tanggal 1 Oktober 1945. Rakyat bergerak melakukan pengambilalihan kekuasaan, baik milik pemerintah maupun milik swasta. Perebutan kekuasaan ini  menjalar ke Kabupaten termasuk mengganti pimpinan-pimpinan wilayah. Untuk Walikota Sukabumi ditetapkan Mr. Syamsudin yang juga Walikota di masa Jepang. Semua masyarakat  terlibat termasuk para lulusan sekolah tentara Pembela Tanah Air. Saat Pasukan Sekutu melewati Sukabumi dengan melanggar perjanjian, seorang pemuda lulusan PETA bernama Edi Sukardi memimpin perang Konvoi hingga dua kali mencegat tentara Sekutu. Pertempuran di kota juga terjadi seperti di Degung, sekitar alun-alun, Nangeleng dan Baros, sebagian pejuang bermarkas di Cipelang dan Kerkof. Belanda kemudian melakukan agresi bulan Juli 1947 dan menguasai kota sehingga ibukota pindah ke Nyalindung sekaligus bersama para pejabat seperti Bupati, Kepala Polisi dan para pejuang. Banyak masyarakat yang takut kemudian mengungsi keluar kota. Belanda memaksa para pejuang untuk hengkang dari wilayah Sukabumi melalui persetujuan Renville sehingga hampir semua pejuang hijrah ke Jawa Tengah dan Yogyakarta sebagai wilayah Republik. Sementara Belanda di Kota Sukabumi membuat pemerintahan versi NICA dan memasukan Sukabumi menjadi bagian negara Pasundan. Pasca kembali ke Sukabumi para pejuang terus bergerilya, termasuk seorang tentara belanda yang membelot bernama Princen mengacau di Baros, Cisaat, Sukaraja dan Gandasoli. Masyarakat Sukabumi mempunyai nasionalisme yang tinggi, para ibu-ibu berkirim surat kepada Bung Karno menyatakaan kesetiaan kepada pihak republik dan akhirnya secara resmi pemerintah Kabupaten dan Kota Sukabumi meminta keluar dari negara Pasundan kemudian masuk ke negara Republik Indonesia yang menginspirasi wilayah lain untuk melakukan hal yang sama. Situasi ini akhirnya menjadi pemicu dibubarkannya negara Republik Indonesia Serikat dan menjadi negara Republik Indonesia.
Sesudah Bangsa Indonesia secara penuh mendapatkan kemerdekaannya, kota Sukabumi ditetapkan sebagai Kota Kecil melalui Undang-Undang Republik Indonesia (Yogyakarta) No. 17 tahun 1950 yang meliputi wilayah "Stadsgemeente" Sukabumi dahulu yang dibagi Kecamatan utara dan Kecamatan selatan. Sementara wilayah Citamiang dikembalikan kepada kabupaten. Kota ini mulai mencoba melakukan pemulihan diantaranya sarana olahraga dibangun oleh Sekolah Polisi Negara berupa stadion sepakbola (sekaligus atletik) pada awal 1950-an (Aneka, Tahun ke III No.1 1 Maret 1952). Tahun 1951 Walikota Afandi Kartajumena sudah mencanangkan program 5 tahun untuk modernisasi kota. Dilakukan pula pembenahan seperti Sekolah Polisi difungsikan kembali , Sekolah umum beroperasi kembali. Walikota berencana akan melakukan modernisasi besar-besaran pasca perang termasuk perbaikan beberapa bangunan yang hancur, namun rencana itu sepertinya tidak bisa terlaksana mengingat anggaran yang defisit serta gentingnya wilayah sekitar perbatasan Kota akibat Gerombolan DI/TII dan pasukan Bambu Runcing, Banyak warga Sukabumi pedalaman yang mengungsi ke saudaranya yang ada di Kota Sukabumi, warga kota enggan bepergian jauh karena takut, distribusi perdagangan juga mengalami hambatan bahkan transportasi hanya ada sampai jam 6 sore. Pada tahun 1952 Walikota Sukabumi Raden Soebandi Prawiranata sempat melakukan modernisasi pasar-pasar dan stasiun bus, dibangun pula Balai Pengobatan. Selain itu dilakukan perbaikan alun-alun, taman, bangunan untuk pedagang, water reservoir untuk keperluan air minum (Pikiran Rakjat 5 Juli 1952). Bioskop dan pasar malam mulai ramai. Namun DI/TII terus membuat kecemasan dengan mengacau jalur transportasi termasuk membajak kereta api, membakar rumah, membunuh dan merampok toko sehingga Bung Karno berpidato di lapang Merdeka mengajak masyarakat untuk setia kepada pemerintah. Pembangunan sangat lamban dan tertatih, pada bulan oktober 1955 Pemerintah bekerjasama dengan sebuah yayasan sempat membangun 81 rumah yang dapat dicicil selama 10 tahun.  Disisi lain ada tokoh-tokoh dari Sukabumi yang berkiprah dalam politik nasional seperti seorang Tionghoa Sukabumi yang menjadi mentri kesehatan pada masa kabinet Ali Sostroamidjojo bernama Lie Kiat Teng yang menjadi mualaf dengan nama Muhammad Ali.
Pada tahun 1959 status Kota Kecil Sukabumi berubah menjadi Status Kotapraja dengan menambah desa Citamiang yang dimasukan kembali menjadi bagian Kota Sukabumi. Seiring perkembangan situasi nasional, di kota Sukabumi terjadi nasionalisasi aset-aset milik warga Belanda diantaranya Pabrik Es Sari Petodjo, Apotik Gedeh (sekarang Kimia Farma), Mineraal fabriek, GEBEO (PLN). Para pegawai berbangsa Belanda banyak yang kembali ke negri asalnya. Pada tahun 1961, wilayah administratif Kota Sukabumi dirubah menjadi terdiri dari Kecamatan Kota Sukabumi Utara, Kota Sukabumi Selatan, Kota Sukabumi timur dan Kecamatan Kota Sukabumi Barat. Muncul tokoh-tokoh terkenal seperti pebalap sepeda nasional yang menjuarai beberapa kejuaraan internasional, Hendrick Brock dari gang rawasalak. Kemudian Lely Sampoerno seorang guru SD Mardi Yuana menjadi penembak wanita pertama dalam Asian games. Muncul pula seorang komposer lagu anak-anak Saridjah Niung yang lahir di Sukabumi. Kemudian atlit anggar wanita dri Kota Sukabumi yang dijuluki Zorro Indonesia yaitu Zus Undapp menjuarai beberapa event Internasional. Namun perkembangan Kota Sukabumi sempat tercabik dengan peristiwa Kerusuhan Mei1963 dimana pasar dibakar, dan bangunan dan toko milik etnis tertentu dihancurkan akibat gesekan sosial. Masa ini juga merupakan saat genting akibat gerakan komunisme. Tokoh Masyumi Buya Hamka ditahan di sekolah polisi Sukabumi, kemudian dalam mahmilub ditemukan surat-surat Sudisman (anggota cc PKI) beserta denah (Plattegrond) Sekolah Polisi Sukabumi dalam arsip SBKP (Serikat Buruh Kementrian Pertahanan), faktanya pecah pemberontakan G/30/S/PKI di Jakarta (Notosusanto:1965). Melalui Undang-Undang No. 18 Tahun 1965, Sukabumi dijadikan sebagai Kotamadya dan dikepalai Walikota. Pasca kegagalan Gestapu muncul sentimen anti  PKI yang berujung pada gerakan massa menangkapi tokoh-tokoh yang diduga terlibat dengan gerakan komunis. Beberapa pentolan komunis seperti Sumiyarsih yang dijuluki Dokter Lubang Buaya tertangkap di Kadudampit. Imbasnya beberapa aset milik etnis tertentu yang diduga bersimpati terhadap PKI, diambil alih massa. Peristiwa ini dianggap sebagi tonggak berakhirnya orde lama dan memasuki era orde baru.
Konsolidasi di era orde baru di Kota Sukabumi dimulai dengan membekukan gerakan KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) dalam munaslub KAPPI di jalan Veteran bulan Januari 1971 dan diganti dengan pendirian OSIS (Organisasi Intra Sekolah) se Indonesia di Kota Sukabumi. Situasi masih sedikit beriak dengan kasus pembunuhan seorang mahasiswa ITB yang menyebabkan demo mahasiswa disekitar Akpol Sukabumi. Kota Sukabumi terus berkembang, dibidang olahraga Perkumpulan sepak bola PERSSI sempat berkembang, bahkan Wasit berlisensi FIFA pertama di Indonesia, Kosasih Kartadiredja adalah orang Sukabumi. Dari bidang musik muncul muisi-musisi seperti Farid Hardja, Mickey Merkelbach, Country Jack, Endar Pradesa dll. Kota Sukabumi kemudian berubah menjadi Kotamadya Daerah TK II Sukabumi melalui Undang-undang No. 5 Tahun 1974. Menjelang era baru reformasi selanjutnya Kota Sukabumi dijadikan sebagai Kotamadya dan dikepalai Walikota Kemudian berdasarkan PP Nomor 33 Tahun 1995 tentang perubahan Wilayah DT II Kotamadya Sukabumi dan Kabupaten Sukabumi. Sejak tahun 1996 terjadi perubahan nama kecamatan di Kota Sukabumi: Kecamatan Kota Sukabumi Utara diubah namanya menjadi Kecamatan Gunung Puyuh Kemudian Kecamatan Kota Sukabumi Timur diubah namanya menjadi Kecamatan Cikole Kecamatan Kota Sukabumi Selatan diubah namanya menjadi Kecamatan Citamiang Kemudian Kecamatan Kota Sukabumi Barat diubah namanya menjadi Kecamatan Warudoyong. Kecamatan Baros dengan sebelumnya masuk wilayah Kabupaten kemudian dimasukkan ke wilayah Kota Sukabumi. Selanjutnya berdasarkan PERDA Kota Sukabumi No. 15 Tahun 2000, wilayah Kota Sukabumi menjadi 7 kecamatan dan 33 kelurahan. Dengan PERDA tersebut Kecamatan Baros dipecah menjadi 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Baros, Kecamatan Cibeureum dan Kecamatan Lembursitu. Dan terakhir melalui UU No 32 Tahun 2003 Kota Sukabumi dinaikan levelnya menjadi Kota. Wilayah administratif Kota ini secara umum lebih mewakili distrik Sukabumi dimasa lalu dimana batas-batas kuno sudah ditancapkan oleh pendahulu kita dimasa lampau. Setiap peristiwa yang berlangsung dalam perkembangan kota ini pada akhirnya bisa kita ambil hikmah untuk menatap masa depan dengan menghindari setiap peristiwa pedih yang pernah terjadi dan menjadikan inspirasi setiap peristiwa mengagumkan dimasa lalu, untuk masa depan Kota Sukabumi yang Lebih baik
Selamat Hari jadi Kota Sukabumi ke 104.