KOMPLEKS GEREJA HKBP SUKABUMI
Oleh: Irman Firmansyah, S. Sos MM*
Kompleks
gereja Huria Kriten Batak Protestan (Gereja HKBP resort Sukabumi) berada di
jalan Sudirman nomor 12/19 Kota Sukabumi. Dalam batu peresmiannya diresmikan
oleh HKBP resort Sukabumi dan Praeses Distrik VIII Jawa-Kalimantan pada hari
minggu, 5 Oktober 2008. Pada masa kolonial Belanda kompleks ini disebut Het SOG
Kapelletje dengan alamat Tjipelangweg nummer 6, sehingga sebagian masyarakat
masih menyebut tempat ini sebagai Kapel (lokasi paling depan SOG adalah
Capelijke atau Gereja Kapel yang sekarang
menjadi HKBP). Kapel (Chapel) adalah bangunan yang dipergunakan sebagai tempat
untuk persekutuan dan ibadah bagi orang kristen. Bangunan kapel biasanya
melekat pada lembaga lain seperi gereja besar, sekolah, perguruan tinggi, rumah
sakit atau penjara[1]. Lokasinya didepan
Internaat (Asrama) putri SOG (Meisjehuis Internaat). Dari sumber Colonial
Architecture, disebutkan bahwa Gereja kapel SOG pernah mengalami dua kali
renovasi. Pertama, tahun 1925-1927 oleh arsitek W. Selle, kedua tahun 1940 oleh
arsitek Reyerse, yang juga bermitrakerja dengan W.Selle dan de Bruyn[2].
Gereja
Kapel dibangun untuk keperluan asrama Soekaboemisch Opvoedings Gesticht (SOG).
SOG semacam sekolah berasrama khusus untuk keluarga pekerja perkebunan di
sekitar Sukabumi, mulai dari warga eropa dan atau warga Indo Eropa yang
dikelola oleh Yayasan Protestan. Sebagian menyebutnya sebagai panti asuhan karena diperuntukkan
kepada para Belanda yang dipekerjakan di perkebunan yang kesulitan untuk
mencari kosan untuk anak-anak yang bersekolah di Kota Sukabumi. Nama SOG
sekarang masih tersisa sebagai toponimi menjadi nama gang SOG. SOG selain juga asrama sekaligus tempat pelatihan berupa
berbagai keahlian semisal bengkel, peternakan, menjahit, pekerjaan konstruksi,
elektronika dan perkayuan serta tata rias. Penghuninya saat itu kebanyakan
adalah anak Belanda peranakan dan sebagian besar adalah penganut agama Kristen
Protestan serta dihuni oleh ratusan siswa dan siswi di bawah pimpinan Zuster
Gunninglaan. Siswa yang diasramakan terdiri dari berbagai usia mulai dari 5
tahun hingga 21 tahun dan dididik dalam disiplin dan keagamaan yang ketat[3].
SOG
sempat dihuni penulis Indo Belanda dan juga pengajar Beb Vuyk bersama suaminya
bernama Ferdinand. Beb Vuyk
adalah seorang penulis yang sering menuliskan tentang kegetiran dinegri jajahan
Hindia Belanda, dia pernah tinggal dan mengajar di asrama SOG pada tahun 1930[4]. Dia kemudian menjadi
jurnalis dan bersimpati terhadap pergerakan kemerdekaan Indonesia. tempat
tinggalnya di SOG sempat dikunjungi oleh Sutan Sjahrir saat di tahan di rumah
tahanan Sekolah Polisi Sukabumi. Saat Jepang menyerang Sukabumi melalui
pesawat-pesawatnya, SOG relatif tidak dihancurkan, sehingga bangunannya masih
relatif utuh, hanya sekolah di seberangnya yang hancur[5].
Pada
masa pendudukan Jepang, tempat ini dijadikan kamp interniran oleh militer
Jepang. Secara spesifik diebutkan klinik Rosali di SOG sebagai tepat interniran
orang Belada. Pada bulan Januari tahun 1943 terdapat sekitar 200 wanita dan
anak-anak dikumpulkan di situ dan pada bulan Juli 1943 ada 500 wanita dan
anak-anak. Penambahan tahanan ini diakibatkan karena banyaknya anak-anak serta
wanita muda yang orang tuanya menjadi korban kekejaman dan penyiksaan Jepang[6]. Sementara
bagian gereja dijadikan pos penjagaan mengingat perbatasan kota lama adalah
jembatan cipelang[7]. Pada awal bulan tahun
1945, SOG menjadi basis bagi Kamp Republikan,
pada saat itu Palang Merah masih memberi mereka bantuan seperti pemberian
makanan secara rutin selama tiga minggu sekali, namun kondisi penghuninya kian
hari kian buruk dan banyak yang jatuh sakit karena penyakit dan kelaparan. Pada tanggal 26 Oktober 1945,
Kamp ini dikuasai oleh pasukan Sekutu yang membantu dan menjaganya sampai
pengalihan kepada tentara Inggris yang datang hingga pada akhir November 1945,
seluruh penghuninya dibawa dan dipindahkan ke tempat rehabilitasi tawanan
perang (POW Rehabilitation) di Kedunghalang Bogor[8].
Bangunan tersebut nampak merupakan bangunan
tua dengan bentuk atap limas, dinding tembok dengan lapisan batu di bagian
bawah. Jendela dan pintu bermaterial
kayu dengan campuran kaca. Lantai dengan tegel merah muda yang sama persis
dengan tegel gereja HKBP (SOG Kapel). Fasade nampak Kanopi dengan tiang tembok.
Dimungkinkan rumah ini dulunya diperuntukan bagi pengajar, pendeta atau pejabat
asrama SOG. jika melihat tipe rumahnya mirip rumah Beb Vuyk seorang pengajar di
asrama SOG tahun 1930. di SOG dalam sebuah
foto dengan suaminya, maka ada kemungkinan ada kesamaan gaya arsitekur
yang dibangun diantaranya, fasade rumah dengan kanopi dan tiang (tiangnya lebih
kecil kemungkinan sudah berubah), tembok batu dibagian bawah yang disusun agak
rapat serta tipe jendela dan pintu.
Dapat
disimpulkan bahwa bangunan tersebut dimungkinkan adalah bagian dari kompleks
SOG yang kemudian dimiliki oleh pihak gereja HKBP, namun selanjutnya beralih
kepemilikan kepada pribadi. Untuk masalah kepemilikan merupakan ranah Badan
Pertahanan. Secara arsitektur dan struktur bangunan ini berpotensi sebagai bangunan cagar budaya mengingat tahun
pembuatan dan renovasina nya bisa jadi bersamaan dengan pembuatan dan renovasi
gereja SOG Kapel. Akan tetapi bangunan ini belum ditetapkan sebagai bangunan
cagar budaya.
DAFTAR PUSTAKA
Buku dan Koran
Bakker, Felix, Schaler
Frits, 1999, Tussen
Djampang en Gedé: geschiedenis der opvoedingsgestichten te Soekaboemi (SOG),
uitgaande van het Genootschap van In- en Uitwendige Zending te Batavia, Januari
1900-Februari 1946, Zwiggelte, Nederland
Knaud, JM, 1976,
Herineringen aan Soekaboemi, Moesson, Den haag
Righni, Scova Bert, 2005, Een leven in twee vaderlanden: Een
biografie van Beb Vuyk, KITLV Uitgeverij, Holland, Hal. 182
Bataviassch, Nieuwsblaad, 19 Februari 1940
Website
Wikipedia.org
colonialarchitecture.nl
japansburgenkampen.nl
japaneseciviliancamps.com
Wawancara
Overleven
op het Internaat, 2011/09/07, wawancara dengan Ny. Aletta Berkholst
Lihat:
Sunarya
Ishack penghuni kompleks tahun 1960an, Wawancara tanggal 8 Februari 2018
Kang Aris, penghuni kompleks sekitar tahun 1980an, Wwancara
tanggal 10 November 2011
Lucky
Noor Lukman, 2 April 2018
Haryanto Babenya Radit, wawancara 13 Februari 2016
*Narasumber
adalah Ketua Riset & Kesejaharahan Paguyban Soekaboemi Heritages, Tulisan
ini merupakan Laporan Penelitian Bangunan kompleks Gereja HKBP Sukabumi bersama
Tim Peneliti Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten, 29 Maret 2018
[1]
Wikipedia.org
[2] colonialarchitecture.nl
[3]
Bataviaasch Nieuwsblaad, 19 Februari 1940
[4] Righni,
Scova Bert, 2005, Een leven in twee vaderlanden: Een biografie van Beb Vuyk,
KITLV Uitgeverij, Holland, Hal. 182
[5] Overleven
op het Internaat, 2011/09/07, wawancara dengan Ny. Aletta Berkholst
[6] Lihat:
japansburgenkampen.nl, dan japaneseciviliancamps.com
[7]
Wawancara dengan Pak Ujang, saksi mata 10 Maret 2018.
[8] Overleven
op het Internaat, 2011/09/07, Java Post
[9]
Wawancara Sunarya Ishack penghuni kompleks tahun 1960an, 8 Februari 2018
[10]
Wawancara dengan Kang Aris, penghuni kompleks sekitar tahun 1980an, 10 November
2011
[11]
Haryanto Babenya Radit, wawancara 13 Februari 2016
[12]
Keterangan Lucky Noor Lukman, 2 April 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar