Selasa, 08 Mei 2018


KOMPLEKS GEREJA HKBP SUKABUMI

Oleh: Irman Firmansyah, S. Sos MM*

Kompleks gereja Huria Kriten Batak Protestan (Gereja HKBP resort Sukabumi) berada di jalan Sudirman nomor 12/19 Kota Sukabumi. Dalam batu peresmiannya diresmikan oleh HKBP resort Sukabumi dan Praeses Distrik VIII Jawa-Kalimantan pada hari minggu, 5 Oktober 2008. Pada masa kolonial Belanda kompleks ini disebut Het SOG Kapelletje dengan alamat Tjipelangweg nummer 6, sehingga sebagian masyarakat masih menyebut tempat ini sebagai Kapel (lokasi paling depan SOG adalah Capelijke atau Gereja Kapel yang sekarang menjadi HKBP). Kapel (Chapel) adalah bangunan yang dipergunakan sebagai tempat untuk persekutuan dan ibadah bagi orang kristen. Bangunan kapel biasanya melekat pada lembaga lain seperi gereja besar, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit atau penjara[1]. Lokasinya didepan Internaat (Asrama) putri SOG (Meisjehuis Internaat). Dari sumber Colonial Architecture, disebutkan bahwa Gereja kapel SOG pernah mengalami dua kali renovasi. Pertama, tahun 1925-1927 oleh arsitek W. Selle, kedua tahun 1940 oleh arsitek Reyerse, yang juga bermitrakerja dengan W.Selle dan de Bruyn[2].

 Gereja Kapel dibangun untuk keperluan asrama Soekaboemisch Opvoedings Gesticht (SOG). SOG semacam sekolah berasrama khusus untuk keluarga pekerja perkebunan di sekitar Sukabumi, mulai dari warga eropa dan atau warga Indo Eropa yang dikelola oleh Yayasan Protestan. Sebagian menyebutnya sebagai panti asuhan  karena diperuntukkan kepada para Belanda yang dipekerjakan di perkebunan yang kesulitan untuk mencari kosan untuk anak-anak yang bersekolah di Kota Sukabumi. Nama SOG sekarang masih tersisa sebagai toponimi menjadi nama gang SOG. SOG selain juga asrama sekaligus tempat pelatihan berupa berbagai keahlian semisal bengkel, peternakan, menjahit, pekerjaan konstruksi, elektronika dan perkayuan serta tata rias. Penghuninya saat itu kebanyakan adalah anak Belanda peranakan dan sebagian besar adalah penganut agama Kristen Protestan serta dihuni oleh ratusan siswa dan siswi di bawah pimpinan Zuster Gunninglaan. Siswa yang diasramakan terdiri dari berbagai usia mulai dari 5 tahun hingga 21 tahun dan dididik dalam disiplin dan keagamaan yang ketat[3].

SOG terdiri dari dua blok yaitu asrama Perempuan (Meisjeshuis Internaat) pimpinan Zuuster Aletta Berkholst dan asrama Laki-laki (Jongenhuis Internaat) dan Kinderhuis, asrama untuk anak-anak 10 tahun ke bawah, yang masih dicampur anak laki-laki dan anak perempuan.  Lokasinya dikelilingi kawat dan bilik bambu, serta beberapa penghuninya adalah siswi dari te Princes Juliana School yang berlokasi di Selabatoe Weg (Sekarang SMAK BPK Penabur).

SOG sempat dihuni penulis Indo Belanda dan juga pengajar Beb Vuyk bersama suaminya bernama Ferdinand. Beb Vuyk adalah seorang penulis yang sering menuliskan tentang kegetiran dinegri jajahan Hindia Belanda, dia pernah tinggal dan mengajar di asrama SOG pada tahun 1930[4]. Dia kemudian menjadi jurnalis dan bersimpati terhadap pergerakan kemerdekaan Indonesia. tempat tinggalnya di SOG sempat dikunjungi oleh Sutan Sjahrir saat di tahan di rumah tahanan Sekolah Polisi Sukabumi. Saat Jepang menyerang Sukabumi melalui pesawat-pesawatnya, SOG relatif tidak dihancurkan, sehingga bangunannya masih relatif utuh, hanya sekolah di seberangnya yang hancur[5].

Pada masa pendudukan Jepang, tempat ini dijadikan kamp interniran oleh militer Jepang. Secara spesifik diebutkan klinik Rosali di SOG sebagai tepat interniran orang Belada. Pada bulan Januari tahun 1943 terdapat sekitar 200 wanita dan anak-anak dikumpulkan di situ dan pada bulan Juli 1943 ada 500 wanita dan anak-anak. Penambahan tahanan ini diakibatkan karena banyaknya anak-anak serta wanita muda yang orang tuanya menjadi korban kekejaman dan penyiksaan Jepang[6]. Sementara bagian gereja dijadikan pos penjagaan mengingat perbatasan kota lama adalah jembatan cipelang[7]. Pada awal bulan tahun 1945, SOG menjadi basis bagi Kamp Republikan, pada saat itu Palang Merah masih memberi mereka bantuan seperti pemberian makanan secara rutin selama tiga minggu sekali, namun kondisi penghuninya kian hari kian buruk dan banyak yang jatuh sakit karena penyakit dan kelaparan. Pada tanggal 26 Oktober 1945, Kamp ini dikuasai oleh pasukan Sekutu yang membantu dan menjaganya sampai pengalihan kepada tentara Inggris yang datang hingga pada akhir November 1945, seluruh penghuninya dibawa dan dipindahkan ke tempat rehabilitasi tawanan perang (POW Rehabilitation) di Kedunghalang Bogor[8].

Sekitar tahun 1964-1969 SOG sempat dijadikan asrama Polisi Akabri[9]. Kemudian antara tahun 1970-an sampai dengan 1989 digunakan sebagai rumah bagi para pegawai Pemda Kota Sukabumi dan pegawai Secapa Polri atau disebut Asrama SOG di jalan Babakansirna tahun 1989 bangunan ini dibongkar dan dijadikan Kantor PU, Politeknik Sukabumi & Pasar Seni Sukabumi. Sekarang sebagian bangunan asrama belakang yang bersebelahan dengan rel kereta api masih tersisa sebagian[10]. Di samping gereja HKBP ada bangunan berkontur tinggi, terpisah oleh jalan Babakan sirna, sebuah jalan yang sebelumnya hanya jalan kompleks,  ada sebuah rumah tua. Rumah tersebut sebelumnya sekitar tahun 80-an dihuni oleh Valdin Penggabean pendeta HKBP, ibunya adalah guru bahasa Inggris di SMPN 2, namanya Bu Dinar[11]. Konon, bangunan sempat dikontrakan kepada perorangan, hingga saat ini dimiliki oleh Iping, Bos peternakan ayam di Sukabumi.[12]. Ada kemungkinan sebelumnya bangunan ini milik gereja HKBP yang dijual kepada pribadi. Rumah tersebut pada masa kolonial dimungkinkan merupakan bagian dari kompleks SOG karena kompleks SOG dalam peta Kota Sukabumi 1930an sangat luas mulai dari wilayah selatan degung hingga selatan gereja HKBP, jarak kedua kompleks sekitar 500 meter. Kompleks gereja kapel sendiri sebelah barat dibatasi oleh  oleh pabrik es Sari Petodjo, dan sebelah timur dibatasi oleh asrama polisi lapangan (Vield Politie),  jadi muka kompleks lebih kecil namun diselatan meluas hingga ke bawah pasar/rel untuk asrama laki-laki.  

Bangunan tersebut nampak merupakan bangunan tua dengan bentuk atap limas, dinding tembok dengan lapisan batu di bagian bawah. Jendela dan pintu  bermaterial kayu dengan campuran kaca. Lantai dengan tegel merah muda yang sama persis dengan tegel gereja HKBP (SOG Kapel). Fasade nampak Kanopi dengan tiang tembok. Dimungkinkan rumah ini dulunya diperuntukan bagi pengajar, pendeta atau pejabat asrama SOG. jika melihat tipe rumahnya mirip rumah Beb Vuyk seorang pengajar di asrama SOG tahun 1930. di SOG dalam sebuah  foto dengan suaminya, maka ada kemungkinan ada kesamaan gaya arsitekur yang dibangun diantaranya, fasade rumah dengan kanopi dan tiang (tiangnya lebih kecil kemungkinan sudah berubah), tembok batu dibagian bawah yang disusun agak rapat serta tipe jendela dan pintu.

Dapat disimpulkan bahwa bangunan tersebut dimungkinkan adalah bagian dari kompleks SOG yang kemudian dimiliki oleh pihak gereja HKBP, namun selanjutnya beralih kepemilikan kepada pribadi. Untuk masalah kepemilikan merupakan ranah Badan Pertahanan. Secara arsitektur dan struktur bangunan ini berpotensi sebagai  bangunan cagar budaya mengingat tahun pembuatan dan renovasina nya bisa jadi bersamaan dengan pembuatan dan renovasi gereja SOG Kapel. Akan tetapi bangunan ini belum ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

DAFTAR PUSTAKA

Buku dan Koran

Bakker, Felix, Schaler Frits,  1999, Tussen Djampang en Gedé: geschiedenis der opvoedingsgestichten te Soekaboemi (SOG), uitgaande van het Genootschap van In- en Uitwendige Zending te Batavia, Januari 1900-Februari 1946, Zwiggelte, Nederland

Knaud, JM, 1976, Herineringen aan Soekaboemi, Moesson, Den haag

Righni, Scova Bert, 2005, Een leven in twee vaderlanden: Een biografie van Beb Vuyk, KITLV Uitgeverij, Holland, Hal. 182

Bataviassch, Nieuwsblaad, 19 Februari 1940

Website

Wikipedia.org

colonialarchitecture.nl

japansburgenkampen.nl

japaneseciviliancamps.com

Wawancara

Overleven op het Internaat, 2011/09/07, wawancara dengan Ny. Aletta Berkholst

Lihat:

Sunarya Ishack penghuni kompleks tahun 1960an, Wawancara tanggal 8 Februari 2018

Kang Aris, penghuni kompleks sekitar tahun 1980an, Wwancara tanggal 10 November 2011

Lucky Noor Lukman, 2 April 2018

Haryanto Babenya Radit, wawancara 13 Februari 2016

*Narasumber adalah Ketua Riset & Kesejaharahan Paguyban Soekaboemi Heritages, Tulisan ini merupakan Laporan Penelitian Bangunan kompleks Gereja HKBP Sukabumi bersama Tim Peneliti Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten, 29 Maret 2018



[1] Wikipedia.org
[2] colonialarchitecture.nl
[3] Bataviaasch Nieuwsblaad, 19 Februari 1940
[4] Righni, Scova Bert, 2005, Een leven in twee vaderlanden: Een biografie van Beb Vuyk, KITLV Uitgeverij, Holland, Hal. 182
[5] Overleven op het Internaat, 2011/09/07, wawancara dengan Ny. Aletta Berkholst
[6] Lihat: japansburgenkampen.nl, dan japaneseciviliancamps.com
[7] Wawancara dengan Pak Ujang, saksi mata 10 Maret 2018.
[8] Overleven op het Internaat, 2011/09/07, Java Post
[9] Wawancara Sunarya Ishack penghuni kompleks tahun 1960an, 8 Februari 2018
[10] Wawancara dengan Kang Aris, penghuni kompleks sekitar tahun 1980an, 10 November 2011
[11] Haryanto Babenya Radit, wawancara 13 Februari 2016
[12] Keterangan Lucky Noor Lukman, 2 April 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar