SEJARAH
PERKEMBANGAN KOTA SUKABUMI
Oleh: Irman "Sufi"
Firmansyah
Kepala Riset & Kesejarahan
Soekaboemi Heritages
Ketua Yayasan dapuran Kipahare
Kota Sukabumi memiliki perkembangan sejarah
panjang yang menarik. Wilayah yang kini sudah berkembang dengan segala
persoalannya ini telah melewati labirin waktu yang berliku. Dalam sejarah yang
membentang selama ribuan tahun, Kota Sukabumi seolah menjadi laboratorium kehidupan,
dimana setiap zaman dan generasinya telah mewariskan pergulatan kisah dan
persoalan yang bisa kita ambil hikmah. Berbicara tentang Sejarah Perkembangan
Kota Sukabumi harus diawali dengan memaknai kembali istilah kota. Makna Kota
sebenarnya tak sekedar kesatuan administratif belaka, kota adalah tempat
tinggal dengan segala infrastrukturnya, kota adalah pusat dari berbagai
jaringan/network mulai dari pemerintahan, pasar, pendidikan, kesehatan dan
sebagainya, sehingga jika kita berbicara kelahiran Kota Sukabumi sebagai pusat
jaringan kehidupan masyarakat, maka kota bukan berawal dari penetapan pemerintah,
tetapi jauh dari itu kota sudah ada sejak menjadi pusat dari berbagai jaringan. Wilayah administratif
Kota Sukabumi yang kita tinggali secara luasan bukanlah bekas wilayah gemeente
Soekaboemi, tetapi bekas distrik (Kawedanaan) Soekaboemi yang didalamnya ada
onderdistrik (Kecamantan) Sukabumi atau sebelumnya disebut distrik Goenoeng Parang
yang ditetapkan tahun 1776. Perbatasannya
lebih luas dari wilayah kota sekarang, perbatasan barat di Cimahi, perbatasan
utara di Perbawati, perbatasan selatan di Wangunreja dan perbatasan timur di
Cimangkok. Tahun 1882 distrik Gunung Parang ini terbagi dalam 3 onder distrik
yaitu Sukabumi, Sukaraja dan Baros, kemudian tahun 1913 distrik Gunung Parang
berubah nama menjadi distrik Sukabumi dengan onderdistrik Sukaraja, Baros dan Cisaat,
sementara Kota Sukabumi dipersiapkan sebagai gemeente (Firmansyah:2017).
Saat ini kita mengenal batas wilayah dengan
batas alam seperti sungai, bukit, gunung dan lain-lain, namun pada masa lampau
terutama jaman Megalitikum, wilayah entitas ini ditandai dengan Menhir yang
diinterpretasikan sebagai perkawinan langit dan bumi yang memungkinkan tempat
tinggal manusia bisa dibangun. Konon keberadaan menhir memberi petunjuk kepada
orang asing bahwa wilayah sekitarnya telah menjadi wilayah bertuan
(Wiryomartono; 1995). Dalam skup lebih kecil terutama saat menandai pembukaan
sebuah kampung, budaya ini disebut ungkal biang (semacam peletakan batu
pertama). Jika kita mencoba memetakan batas entitas ini di masa Megalitikum, maka
terdapat kesamaan relatif dengan batas wilayah distrik Soekaboemi. Bisa kita temukan
sebelah barat ada peninggalan Menhir Batu Kabayan di Cisaat, kemudian di sebelah
timur ada Menhir di Kampung Tugu Sukaraja, di sebelah selatan ada kampung Tugu
di Baros meskipun menhirnya belum ditemukan tapi secara toponimi menunjukan
keberadaan Menhir disitu, di sebelah utara belum ditemukan Menhir sejenis, namun
kita bisa menduga bahwa wilayah ini sudah dihuni dan ditandai sejak masa
lampau. Mereka berkumpul dekat sungai-sungai mengaliri tanah yang subur terbentang
dari Cisaat hingga Sukaraja. Kesuburan wilayah ini menurut Jan Casper Philips karena
Gunung Parang terbentuk dari lahar yang dihasilkan ledakan perut bumi Gunung
Gede. Air merupakan prasarat utama sebuah kota, bahkan kota peradaban di dunia
biasanya ada di sekitar sungai yang menyediakan air untuk kehidupan.
Pada awalnya batu mendominasi hasil budaya
manusia disini, kemudian masuknya pendatang dari Yunan mengenalkan budaya serta
citarasa baru yaitu logam dan juga perhiasan. Dalam catatan NJ Krom tahun 1904 di
Kota Sukabumi ditemukan sebuah patung perunggu Amoghapaca dengan prasasti dari
raja Kartanegara dan sebuah gagang cermin berisi prasasti, benda-benda ini
dimiliki Dr. Widerhold. Masuknya para pendatang ini juga memunculkan peradaban
baru yaitu terbentuknya sistem administrasi kerajaan. di Rawa Uncal Sudajaya
ditemukan senjata kebesaran dari perunggu yang menunjukan adanya kerajaan
dengan pasukannya. Seiring kedatangan para pendatang dari India terutama
kedatangan duta keliling Dewawarman sebagai tonggak, muncullah tata
pemerintahan di Tatar Sunda yang ditandai oleh munculnya Kerajaan Salakanagara dimana
Sukabumi masuk menjadi bagian mandala Tanjung Kidul. Tak ada informasi mengenai
kondisi Sukabumi pada masa ini, namun di masa kerajaan Tarumanegara Raja
Suryawarman dan iring-iringannya, sekitar tahun 526 M, memasuki wilayah Sukabumi
untuk menuju Kendan (Nagreg) yang dihadiahkan kepada Resi Manikmaya. Sementara pada masa kerajaan
Sunda sebuah prasasti bertahun 1030 M, di Cibadak beberapa kilometer arah barat
Kota Sukabumi menjadi pintu masuk terkuaknya sejarah Sunda. Sejarah yang
mengurai kisah yang rumit antara raja-raja Sunda dan raja Jawa, Bali bahkan
Sumatera.
Munculnya kerajaan Pajajaran dengan tokoh
Prabu Siliwangi yang memenuhi kisah-kisah sejarah di seantero Jawa Barat
termasuk di wilayah Kota Sukabumi. Terdapat dua tempat yang konon menjadi
persinggahannya yaitu Kutawesi (Kampung Kuta) dan Kutamaneuh (Gunung Guruh).
Mitos-mitos tentang Prabu Siliwangi sering muncul disitu. Nama kampung Kuta
(Kutawesi) masih terekam dalam peta Belanda tahun 1898 yang menunjukkan Kampung
Kuta dikelilingi lima kampung Benteng dari beberapa arah, seolah menegaskan
konsep kota kuno yang di kelilingi benteng (city wall). Jikalau dugaan keberadaan Kota Benteng ini
benar, maka dimungkinkan kota ini hancur saat serangan Banten ke timur pakuan.
Pasca buraknya Pajajaran, pelarian dari
Pakuan ke wilayah Sukabumi terbagi dua, pertama
masyarakat biasa yang mengungsi ke selatan sekitar pelabuhanratu dan hutan
halimun, kedua para pembesar dan
prajurit lari ke arah Kota Sukabumi sekarang, Cikembar dan Jampang. Keberadaan
kuburan Mbah Terong Peot, Kandaga Lante yang bertugas membawa mahkota Binokasih
ke Sumedanglarang, di Dayeuhluhur seolah
menjadi bukti tentang keberadaan para prajurit ini. Gerhardus Heinrich Nagel dalam buku Schetsen uit mijne Javaansche portefeuille
1828 menyebutkan bahwa nama Gunung Parang bukan berasal dari perkakas parang
tetapi berasal dari tempat yang menjadi ajang Perang (Gunung Perang). Jika
dikaitkan dengan kemunculan wilayah Gunung Guruh di era awal kolonial
(Kunjungan Scipio 1687), maka dimungkinkan masyarakat Kota Sukabumi (Kutawesi) yang
diserang pasukan Banten mengungsi ke wilayah Gunung Guruh (Kutamaneuh) sehingga
wilayah Kota Sukabumi kosong. Kondisi ini berangsur-angsur pulih, masyarakat
kembali menghuni wilayah Kota Sukabumi pasca dibukanya Babakan Gunung Parang
oleh Wangsa Suta. Kisah Legenda pada masa imperium Mataram ini seolah
terlegitimasi dengan keterangan dalam kisah Volks en Volkunde tentang kisah Demang
Kartala masa Mataram sebagai cutak Mangkalaya yang berkedudukan di Dayeuhluhur.
Bahkan sebagian masyarakat mempercayai sebuah makam di kampung kuta yang
disebut Bayah Suta sebagai makam pendiri babakan Gunung Parang bernama Embah
Jaya Suta. Pada masa Mataram hingga kolonial berdatanganlah para pendakwah Islam
sehingga banyak peninggalan-peninggalan makam kuno di Kota Sukabumi baik
pelarian pasukan mataram ataupu pendakwah khusus dari Cirebon dan Banten
diantaranya Mama Sanyur, Syekh Mursyi, Eyang Kutawesi, Adipati Mataram, Jaya
Suta, Saofidin Al Matromy, Eyang Bale Rante, Mbah Jayaprana, Eyang Kuning, Mbah
Kumpul, Aliyin Aliyudin, Mama Jupri, Eyang Dalem Sakti dan Dalem Suryadiningrat.
Kedatangan bangsa
Eropa yang merubah misi dagang menjadi penguasaan wilayah, menyebabkan
kemunduran Mataram. Secara resmi wilayah selatan Gunung Gede hingga Basisir
Kidul dikuasai maskapai dagang (VOC) pada tahun 1677, meskipun faktanya baru
sepuluh tahun kemudian seorang sersan VOC (Scipio) dan Letnan Tanudjiwa (pendiri
Kampung Baru Bogor) melakukan ekspedisi ke Gunung Guruh pada tahun 1687. Kemudian
Gunung Parang dijadikan perkebunan tanaman komoditas Internasional yang cukup
berhasil sehingga Gunung Parang menjadi sebuah distrik pada tahun 1776. Perilaku
Korup pejabat VOC akhirnya menyebabkan kekuasaan beralih ke tangan Perancis
karena negeri Belanda dikuasai Perancis. Upaya VOC memindahkan sisa kekuatannya
ke Pelabuhanratu berakhir sia-sia karena Daendels datang dan mengurusi
administrasi dengan tangan besi. Masa Daendels merupakan tonggak masuknya kelompok
kecil orang Tionghoa ke Kota Sukabumi untuk dijadikan pekerja perkebunan
(Tan:1957). Namun kemudian kekuasaan beralih ke tangan Inggris pasca serangan besar-besaran.
Penyerangan yang menyebabkan Inggris hampir bangkrut itu akhirnya memberikan
Ide Raffles sebagai penguasa baru untuk menjual beberapa wilayah-wilayah di
Jawa kepada Swasta termasuk Sukabumi yang dijual kepada Andries De Wilde pada tahun
1813. Penjualan inilah yang pada akhirnya mengangkat nama Sukabumi kepada
khalayak pasca ditetapkannya nama yang diajukan para kokolot oleh Andries de
Wilde dan dicantumkan dalam seluruh laporannya. Lambat laun para traveller yang
datang ke Sukabumi serta para pejabat seperti Raffles, Joseph Arnold,
Reindwardt mulai menggunakan nama Sukabumi selain Gunung Parang.
Melalui pengelolaan
perkebunan yang berhasil, Cikole yang sebagai tempat tinggal Andries De Wilde
menjadi pusat pengumpulan hasil perkebunan mulai dari kopi, padi, pala, lada
dan Tarum/nila. Gudang-gudang kopi berjejer di sekitar jalan yang masih disebut
jalan Gudang hingga sekarang. Menurut keterangan para traveller saat itu di Sukabumi
sudah ada fasilitas berupa pemandian air panas dan homestay, ada juga forum pertemuan para petani yang rutin bulanan
di rumah Wilde (sekarang SD kehidupan
baru). Urusan wakaf mesjid juga dibahas para imam termasuk pengiriman imam ke Mekkah
untuk beribadah haji, wakaf yang dilakukan diantaranya mesjid Agung sekarang
dan sebuah mesjid di Rambay. Urusan perawatan jalan menjadi perhatian Wilde, infrastruktur
jalan untuk distribusi kopi diperbaiki dan membuat saluran irigasi. Status Sukabumi
sebagai Vrijeland memberi keleluasaan Wilde untuk mengelola sendiri tanpa
campur tangan Bupati Cianjur. Jika ada
traveller datang maka Wilde yang ditemui di Sukabumi bukan bupati Cianjur. Wilde
juga melakukan Budidaya keledai dan kuda untuk kuda militer. Tahun 1821 Wilde
membudidayakan Kerbau, Sapi dan Banteng, dan sapinya dikenal Sapi terbersih (Wilde:1830). Mulailah muncul urbanisasi dimana masyarakat
kampung-kampung sekitar memasuki area Gunung Parang untuk mendapatkan pekerjaan
ataupun untuk berdagang, ada pola baru berupa kompensasi/upah pada masa ini
yang diimplementasikan Raffles. Mulailah embrio fungsi kota terbentuk meskipun
secara fisik hanya berupa kampung. Dalam skup kecil inilah kota awal secara sosial
terbentuk, karena pusat administrasi Vrijeland ada disini. Ibarat kelahiran
manusia yang diberi nama, kota tidak langsung lahir sebagai kota dewasa tetapi
lahir dalam bentuk kecil namun memenuhi syarat kota sebagai jaringan dintaranya
ketersedian air, surplus pangan, dan infrastruktur jalan (Horton dan Hunt:1990),
yang dilegitimasi dengan nama bayi "Soeka Boemie" yang diusulkan
masyarakat.
Beralihnya kekuasaan kepada pemerintah Hindia Belanda
menjadikan wilayah Sukabumi masuk kembali kepada sistem Tanam paksa yang
dicanangkan Van Den Bosch pada tahun 1830. Sebagian masyarakat lari ke selatan
sehingga sebagian wilayah kota ada yang kosong (tarikolot), budaya tipar juga
ditinggalkan dan tinggal nama kampungnya. Disisi lain nama Sukabumi semakin
bersinar karena banyak orang-orang besar yang berkunjung ke Kota Sukabumi dan
menyebut tempat ini sebagai town atau kota kecil (Basil:1893). Meskipun secara
administratif hanya berupa hoofdplaats (bale
desa) sebagai ibukota distrik Gunung Parang, Sukabumi
situasinya sudah seperti standar kota, sudah dibangun dengan pagar batu putih di kedua sisi jalan
yang menghiasi hampir di sepanjang jalan. Saat itu di Sukabumi sudah ada yang
berjualan bir, harga satu botol bir di Sukabumi lima gulden, dan transportasi
utama dengan menggunakan kuda (Crockewitt:1866). Dalam catatan
resmi pemerintah juga menyebut Sukabumi sebagai Kutta. Misalnya dalam laporan
polisi pada 1 November 1865 di Sukabumi,
disebutkan sebagai berikut: “Dipersembahkan
dengan segala hormat kehadapan Padoeka Toewan Direkteur PF Wegener, jang
termadjelis di Kotta Soekaboemi (Steebrink:1988).
Lambat laun sesuai keperluan dan tonggak dihapuskannya
tanam paksa maka Sukabumi dipisahkan secara Afdeling dari Cianjur dan
menjadikan Kota Sukabumi sekarang menjadi Ibukota Afdeling. Perubahan ini tidak
merubah status Sukabumi yang berada di bawah Kabupaten (Regentschap) Cianjur. Penataan
ini juga menyambut era baru perkebunan swasta yang memerlukan tempat
administrasi sekaligus tempat hiburan yang dekat. Mulailah dibangun kota kolonial awal berupa
pencampuran konsep tata kota tradisional dan kolonial yang dikembangkan ahli
Geografi Hp. H. Th Witkamp (Wartheim:1958). Alun-alun menjadi pusat dengan
pohon beringinnya, kemudian di selatan rumah asisten residen dan patih di sebelah
timur tidak jauh dari alun-alun, sebelah barat mesjid, sebelah utara tempat hiburan
bangsa Belanda dan sebelah timur tempat tinggal orang Eropa atau Tangsi
militer/polisi. Dibangunlah bangunan fungsional seperti Pendopo, Penjara, Pengadilan,
Mesjid Agung, Kantor Polisi bahkan penataan Alun-alun yang kemudian dipecah
dengan Victoria Park yang sekarang menjadi Lapang Merdeka. Dibangun pula
Kantor dan rumah Asisten Residen, kantor dan rumah Patih, selain itu kantor
untuk controleur, politieopziener 1e klasse, dan bangunan
lainnya.
Tak lama kemudian
dibangunlah jalur kereta api yang memicu distribusi barang dan manusia dengan
mudah dan cepat sehingga semakin banyak orang eropa dan lokal yang
berbondong-bondong ke Sukabumi dan menjadi titik perkembangan selanjutnya yaitu
Desentralisasi. Masuklah orang Tionghoa dalam jumlah besar yang awalnya hanya pekerja
rel kereta api yang tinggal di bedeng-bedeng sekitar stasiun. Sungai-sungai dan
selokan yang banyak melintas dibuat gorong-gorong dan ditimbun. Para pelancong
lebih banyak berdatangan hingga para bangsawan Eropa seperti Arthur Earle,
Frank G. Carpenter, Eliza Ruhamah Scidmore, FS Kelly, George Roshenshine,
William Worsfoldm Frans Ferdinand, Arthur C. Bicknell, Raja Chulalangkorn, AG
Voderman, Clockener Brouson Frans Bernard, Edmond Eduard, Pangeran George II, dan
Nicholas II. Orang-orang Eropa juga menginginkan sebuah tempat yang bisa mereka
untuk kongkow-kongkow dan dibangun Societeit Soekamanah yaitu Gedung Juang.
Orang-orang kaya Eropa pemilik perkebunan di Sukabumi sangat dihormati, bahkan
di Bandung disediakan reservasi khusus untuk mereka. Jika mereka mau belanja
disebut naar boven yaitu naik ke Bandung. Sementara orang Batavia kalo mau
rekreasi disebut naar boveden alias turun ke Sukabumi bukan ke Bogor. Restoran
dan toko coklat terbaik seperti Schuttavaer yang pernah dikunjungi Pakubuwono X
serta raja Thailand juga tersedia disini. Pembangunan hotel Ploem, hotel
Victoria. Hotel Selabintana mengantisipasi melonjaknya pengunjung kesini. Hotel
Victoria jadi langganan Gubernur Jendral ada waktu weekend diantaranya O Van
Rees (1884-1888) dan Pijnacker Hordijk (1888-1893). Bahkan saat Raja Thailand
berkunjung ke Sukabumi semua hotel penuh hingga dia menginap di rumah seorang
asisten residen. Dibangun pula Kantor dan Fasilitas umum seperti Kantor telepon
dan telegraf, Pemakaman Umum Kerkhof, Klenteng, Gereja, Mesjid Agung.
Era ini ditandai pula
dengan pembangunan fisik dan non fisik akibat politik etisch, munculnya
sekolah-sekolah seiring munculnya cendekia dan orang profesional, Muncul
orang-orang terdidik yang jadi penulis seperti Charles Du Pont, Rie Cramer
ilustrator, ada pula pesepakbola Belanda G Mundt, Ahli Ekonomi dunia Gonggrijp
yang disetarakan dengan Adam Smith. Kemudian dibangun irigasi dibuktikan dengan
banyaknya talang air di Sukabumi pada masa lalu untuk mengalirkan air dari
utara ke selatan. transmigrasi juga dicanangkan oleh Asisten Residen Sukabumi sehingga
ada banyak nama tempat Sukabumi di Sumatera, bahkan orang Sukabumi banyak yang
dikirim ke Suriname sebagai kuli kontrak. Selain itu di Kaledonia ada Taman yang
dinamai oleh nama orang Sukabumi yaitu Taman Mohammad Kasim. Kota ditata
berdasarkan suku bangsa Eropa dan Indo, Tionghoa dan Pribumi yang disebut
politik segregasi. Masyarakat pribumi saat itu yang mayoritas Islam kemudian
dianggap sebagai radikal dalam beberapa laporan, disisi lain masyarakat Eropa
sangat leluasa bahkan muncul pula gerakan Freemasonry "De Hoeksteen"
yang disebut masyarakat saat itu sebagai pemuja setan.
Orang Eropa semakin
banyak dan mereka merasa Kota Sukabumi tidak seperti di Eropa yang tertata
baik, untuk pembangunan saja harus minta persetujuan panjang hingga ke Gubernur
Jendral. Inilah tonggak awal pengaturan administratif secara langsung oleh
pemerintah kolonial. Aspirasi ini kemudian berkembang sehingga diputuskan status
Gemeente Soekaboemi pada 1 April 1914
yang dijadikan hari lahir Kota Sukabumi. Gemeente ini disebut sebagai Kota Eksklusif
karena orang Eropa tidak mau di bawahi patih maupun Bupati lokal, bahkan disebut
juga sebagai European Enclaves (Kantung
Eropa) karena menjadi hunian para orang Eropa yang independen dari kekuasaan
Bupati Lokal. Jika melihat perspektif hukum Tata Negara, maka Kota Sukabumi
lebih dulu lahir dari pada Kabupaten Sukabumi karena lahir dari rahim Kabupaten
Cianjur bukan dari Kabupaten Sukabumi yang baru ada sejak tahun 1921. Pasca
menjadi gemeente inilah terjadi pembangunan besar-besaran dibawah Asisten
residen yang yang disebut Soekaboemi Vooruit (Sukabumi melangkah). Pembangunan
ini melibatkan arsitek-arsitek tersohor di nusantara seperti Thomas Karsten,
Aalbers, Ghijsels, Maclaine Pont. Bangunan swasta bermunculan seperti Gedung
Bouw Mij (Capitol), Kantor Pos, Kantor telepon, Bioskop, Pom Bensin, Pabrik es
sari petodjo, apotik gedeh, Machine Fabriek. Kemudian elektrifasi kota,
pengadaan air ledeng, Pembangunan Rumah sakit Gemeente, pemasangan lampu jalan,
relokasi pemukiman Tionghoa dari sekitar stasiun ke sekitar gang peda dan gang
tek wat, perbaikan jalan, perbaikan gorong-gorong drainase, renovasi bangunan
gewapende politie (cikal bakal sekolah polisi) dan lain-lain. Pasca diangkat
Rambounet sebagai Burgemeester, kemudian dibangun Gedung Balaikota (Stadhuis)
dari bekas rumah Koh Ek tong. Pasar dimodernkan dengan gerbang indah. Gorong-gorong
ditambah untuk antisipasi banjir, muncul banyak hotel dan termasuk tempat
hiduran, golf, pacuan kuda hingga kolam renang seperti Hotel, Wanasari,
Broderij Cramer, Prana, Hotel Pensiun dan lain-lain.
Secara adminsitratif pada tahun 1935 Kota Sukabumi dibagi menjadi
wilayah utara dan selatan (Wijk A dan Wijk B). Masa ini juga ditandai dengan dikenalnya Sanatorium
Selabatu sebagai tujuan wisata medis (medical
tourism) seasia tenggara dan menjadi tujuan berobat orang-orang Malaysia
dan Singapura. Sekolah pertanian juga menjadi tujuan anak-anak para pejabat dan
bangsawan nusantara untuk belajar, bahkan bibit teh terbaik dihasilkan dari
sekolah ini dan diekspor ke perkebunan-perkebunan se Asia Tenggara. Industri
Penerbangan nusantara berawal dari Kota ini juga dengan percobaan pesawat dari
bambu dan kulit sapi oleh Mr Onen. Kelompok Catur (Schaakclub) juga sempat
berkembang baik sehingga seorang Grandmaster belanda yang jadi juara dunia
yaitu Dr. Max Euwe berkunjung ke Kota Sukabumi pada bulan September 1930,
selain itu ada kunjungan juga dari Grandmaster dan juara catur keempat yaitu
Alexander Alekhine pada tahun 1933. Sekolah-sekolah lain juga berkembang
seperti Sekolah Sekolah Eropa, Tionghoa dan Pribumi. Dalam bidang industri produk
kayu kibodas menjadi produk home kit
yang dipakai di Boven Digoel dan beberapa negara Eropa. Selain perkembangan
fisik, Kota Sukabumi juga menjadi tempat Pembuangan para Pejuang nasional diantaranya
Karanjalemba, Paralente dan Mahasuri dari Sulawesi Tengah, kemudian Ayahnya
Buya Hamka (Haji Rasul), Dr. Tjipto Mangunkusumo, Bung Hatta dan Syahrir.
Perang pasifik pecah sesudah
kegagalan perundingan di Selabintana antara Van Mook dan Kobajashi bulan September
1941. Saat Jepang masuk ke Kota Sukabumi (disebut Shi Soekaboemi) banyak
bangunan-bangunan dihancurkan oleh serangan pesawat tempur Jepang. Kondisi Kota
menjadi merosot karena situasi peperangan antara Jepang dan Sekutu, bahkan
sempat terjadi kekacauan di Kota. Desa Citamiang berdasarkan Bogor-Syurei
tanggal 15 Nopember 1942 No. 1 dimasukkan ke dalam wilayah Shi Sukabumi. Penentangan
Mr. Sjamsoedin terhadap kebijakan Jeopang dalam Chuo Sangi In ternyata
menyebabkan dirinya diangkat sebagai Walikota Sukabumi. Situasi Kota labat laun
teratur, kendaraan sempat tak beroperasi kemudian beroperasi kembali seperti De
Zonen dengan jurusan pelabuhanratu dan Tan Lux dengan jurusan Jampang. Kota
Sibuk mengurusi urusan dukungan perang yang menyengsarakan masyarakat mulai
dari gerakan POETRA yang dicetuskan empat serangkai (Bung Karno, Bung Hatta, Ki
Hajar Dewantara dan KH. Mas Mansyur) di Hotel Selabintana Desember 1942. Warga Sukabumi
dikirim sebagai Romusha ke Rumpin, Banten selatan dan para wanita dijadikan
Jugun Ianfu. Pembangunan nyaris tidak ada hanya pembanguan Lapangan Inada tahun
1943 yang kemudian hari menjadi lapang danalaga untuk kebutuhan olahraga. Semua
pengusaha diikat dalam asosiasi-asosiasi yang ujungnya diminta membantu Jepang
dalam peperangan. Bioskop menjadi alat propaganda, termasuk layar tancap di
alun-alun Sukabumi, bahkan ulama dikumpulkan di Pendopo Sukabumi untuk
mendukung Jepang. Namun sisi positifnya Jepang mengajarkan bentuk kedisiplinan
militer, serta melatih para pemuda kemiliteran yang dikemudian hari sangat
berguna ketika mempertahankan kemerdekaan.
Pasca kekalahan Jepang,
Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan 17 Agustus 1945,
masyarakat Sukabumi berkumpul di lapang Victoria (sekarang lapang merdeka) pada
tanggal 1 Oktober 1945. Rakyat bergerak melakukan pengambilalihan kekuasaan,
baik milik pemerintah maupun milik swasta. Perebutan kekuasaan ini menjalar ke Kabupaten termasuk mengganti
pimpinan-pimpinan wilayah. Untuk Walikota Sukabumi ditetapkan Mr. Syamsudin
yang juga Walikota di masa Jepang. Semua masyarakat terlibat termasuk para lulusan sekolah tentara
Pembela Tanah Air. Saat Pasukan Sekutu melewati Sukabumi dengan melanggar
perjanjian, seorang pemuda lulusan PETA bernama Edi Sukardi memimpin perang
Konvoi hingga dua kali mencegat tentara Sekutu. Pertempuran di kota juga
terjadi seperti di Degung, sekitar alun-alun, Nangeleng dan Baros, sebagian
pejuang bermarkas di Cipelang dan Kerkof. Belanda kemudian melakukan agresi bulan
Juli 1947 dan menguasai kota sehingga ibukota pindah ke Nyalindung sekaligus bersama
para pejabat seperti Bupati, Kepala Polisi dan para pejuang. Banyak masyarakat
yang takut kemudian mengungsi keluar kota. Belanda memaksa para pejuang untuk
hengkang dari wilayah Sukabumi melalui persetujuan Renville sehingga hampir semua
pejuang hijrah ke Jawa Tengah dan Yogyakarta sebagai wilayah Republik. Sementara
Belanda di Kota Sukabumi membuat pemerintahan versi NICA dan memasukan Sukabumi
menjadi bagian negara Pasundan. Pasca kembali ke Sukabumi para pejuang terus bergerilya,
termasuk seorang tentara belanda yang membelot bernama Princen mengacau di
Baros, Cisaat, Sukaraja dan Gandasoli. Masyarakat Sukabumi mempunyai
nasionalisme yang tinggi, para ibu-ibu berkirim surat kepada Bung Karno
menyatakaan kesetiaan kepada pihak republik dan akhirnya secara resmi pemerintah
Kabupaten dan Kota Sukabumi meminta keluar dari negara Pasundan kemudian masuk ke
negara Republik Indonesia yang menginspirasi wilayah lain untuk melakukan hal
yang sama. Situasi ini akhirnya menjadi pemicu dibubarkannya negara Republik
Indonesia Serikat dan menjadi negara Republik Indonesia.
Sesudah Bangsa Indonesia secara penuh mendapatkan
kemerdekaannya, kota Sukabumi ditetapkan sebagai Kota Kecil melalui Undang-Undang
Republik Indonesia (Yogyakarta) No. 17 tahun 1950 yang meliputi wilayah
"Stadsgemeente" Sukabumi dahulu yang dibagi Kecamatan utara dan
Kecamatan selatan. Sementara wilayah Citamiang dikembalikan kepada kabupaten.
Kota ini mulai mencoba melakukan
pemulihan diantaranya sarana olahraga
dibangun oleh Sekolah Polisi Negara berupa stadion sepakbola (sekaligus
atletik) pada awal 1950-an (Aneka, Tahun ke III No.1 1 Maret 1952). Tahun 1951 Walikota Afandi Kartajumena sudah
mencanangkan program 5 tahun untuk modernisasi kota. Dilakukan pula pembenahan
seperti Sekolah Polisi difungsikan kembali , Sekolah umum beroperasi kembali. Walikota
berencana akan melakukan modernisasi besar-besaran pasca perang termasuk
perbaikan beberapa bangunan yang hancur, namun rencana itu sepertinya tidak
bisa terlaksana mengingat anggaran yang defisit serta gentingnya wilayah
sekitar perbatasan Kota akibat Gerombolan DI/TII dan pasukan Bambu Runcing, Banyak
warga Sukabumi pedalaman yang mengungsi ke saudaranya yang ada di Kota Sukabumi,
warga kota enggan bepergian jauh karena takut, distribusi perdagangan juga
mengalami hambatan bahkan transportasi hanya ada sampai jam 6 sore. Pada tahun 1952 Walikota Sukabumi Raden Soebandi Prawiranata sempat
melakukan modernisasi pasar-pasar dan stasiun bus, dibangun pula Balai
Pengobatan. Selain itu dilakukan perbaikan alun-alun, taman, bangunan untuk
pedagang, water reservoir untuk keperluan air minum (Pikiran Rakjat 5 Juli
1952). Bioskop dan pasar malam mulai ramai. Namun DI/TII terus membuat
kecemasan dengan mengacau jalur transportasi termasuk membajak kereta api,
membakar rumah, membunuh dan merampok toko sehingga Bung Karno berpidato di
lapang Merdeka mengajak masyarakat untuk setia kepada pemerintah. Pembangunan
sangat lamban dan tertatih, pada bulan oktober 1955 Pemerintah bekerjasama
dengan sebuah yayasan sempat membangun 81 rumah yang dapat dicicil selama 10
tahun. Disisi lain ada tokoh-tokoh dari Sukabumi
yang berkiprah dalam politik nasional seperti seorang Tionghoa Sukabumi yang
menjadi mentri kesehatan pada masa kabinet Ali Sostroamidjojo bernama Lie Kiat
Teng yang menjadi mualaf dengan nama Muhammad Ali.
Pada tahun 1959 status Kota Kecil Sukabumi berubah
menjadi Status Kotapraja dengan menambah desa Citamiang yang dimasukan kembali menjadi
bagian Kota Sukabumi. Seiring perkembangan situasi nasional, di kota Sukabumi
terjadi nasionalisasi aset-aset milik warga Belanda diantaranya Pabrik Es Sari
Petodjo, Apotik Gedeh (sekarang Kimia Farma), Mineraal fabriek, GEBEO (PLN). Para
pegawai berbangsa Belanda banyak yang kembali ke negri asalnya. Pada tahun 1961, wilayah administratif Kota Sukabumi
dirubah menjadi terdiri dari Kecamatan Kota Sukabumi Utara, Kota Sukabumi
Selatan, Kota Sukabumi timur dan Kecamatan Kota Sukabumi Barat. Muncul tokoh-tokoh terkenal seperti pebalap sepeda nasional yang menjuarai
beberapa kejuaraan internasional, Hendrick Brock dari gang rawasalak. Kemudian
Lely Sampoerno seorang guru SD Mardi Yuana menjadi penembak wanita pertama dalam
Asian games. Muncul pula seorang komposer lagu anak-anak Saridjah Niung yang
lahir di Sukabumi. Kemudian atlit anggar wanita dri Kota Sukabumi yang dijuluki
Zorro Indonesia yaitu Zus Undapp menjuarai beberapa event Internasional. Namun
perkembangan Kota Sukabumi sempat tercabik dengan peristiwa Kerusuhan Mei1963 dimana
pasar dibakar, dan bangunan dan toko
milik etnis tertentu dihancurkan akibat gesekan sosial. Masa ini juga merupakan
saat genting akibat gerakan komunisme. Tokoh Masyumi Buya Hamka ditahan di
sekolah polisi Sukabumi, kemudian dalam mahmilub ditemukan surat-surat Sudisman
(anggota cc PKI) beserta denah (Plattegrond) Sekolah Polisi Sukabumi dalam
arsip SBKP (Serikat Buruh Kementrian Pertahanan), faktanya pecah pemberontakan
G/30/S/PKI di Jakarta (Notosusanto:1965). Melalui Undang-Undang
No. 18 Tahun 1965, Sukabumi dijadikan sebagai Kotamadya dan dikepalai Walikota. Pasca kegagalan Gestapu muncul sentimen anti PKI yang berujung pada gerakan massa menangkapi
tokoh-tokoh yang diduga terlibat dengan gerakan komunis. Beberapa pentolan
komunis seperti Sumiyarsih yang dijuluki Dokter Lubang Buaya tertangkap di
Kadudampit. Imbasnya beberapa aset milik etnis tertentu yang diduga bersimpati
terhadap PKI, diambil alih massa. Peristiwa ini dianggap sebagi tonggak
berakhirnya orde lama dan memasuki era orde baru.
Konsolidasi di era orde baru di Kota Sukabumi dimulai dengan membekukan
gerakan KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) dalam munaslub KAPPI di
jalan Veteran bulan Januari 1971 dan diganti dengan pendirian OSIS (Organisasi
Intra Sekolah) se Indonesia di Kota Sukabumi. Situasi masih sedikit beriak
dengan kasus pembunuhan seorang mahasiswa ITB yang menyebabkan demo mahasiswa
disekitar Akpol Sukabumi. Kota Sukabumi terus berkembang, dibidang olahraga Perkumpulan
sepak bola PERSSI sempat berkembang, bahkan Wasit berlisensi FIFA pertama di
Indonesia, Kosasih Kartadiredja adalah orang Sukabumi. Dari bidang musik muncul
muisi-musisi seperti Farid Hardja, Mickey Merkelbach, Country Jack, Endar
Pradesa dll. Kota Sukabumi kemudian berubah
menjadi Kotamadya
Daerah TK II Sukabumi melalui Undang-undang No. 5 Tahun 1974. Menjelang era baru reformasi selanjutnya Kota Sukabumi dijadikan
sebagai Kotamadya dan dikepalai Walikota
Kemudian berdasarkan PP Nomor 33 Tahun 1995 tentang perubahan Wilayah DT II
Kotamadya Sukabumi dan Kabupaten Sukabumi. Sejak tahun 1996 terjadi perubahan
nama kecamatan di Kota Sukabumi: Kecamatan Kota Sukabumi Utara diubah namanya menjadi
Kecamatan Gunung Puyuh Kemudian Kecamatan Kota Sukabumi Timur diubah namanya
menjadi Kecamatan Cikole Kecamatan Kota Sukabumi Selatan diubah namanya menjadi
Kecamatan Citamiang Kemudian Kecamatan Kota Sukabumi Barat diubah namanya
menjadi Kecamatan Warudoyong. Kecamatan Baros dengan sebelumnya masuk wilayah
Kabupaten kemudian dimasukkan ke wilayah Kota Sukabumi. Selanjutnya berdasarkan PERDA Kota Sukabumi
No. 15 Tahun 2000, wilayah Kota Sukabumi menjadi 7 kecamatan dan 33 kelurahan.
Dengan PERDA tersebut Kecamatan Baros dipecah menjadi 3 kecamatan, yaitu
Kecamatan Baros, Kecamatan Cibeureum dan Kecamatan Lembursitu. Dan terakhir
melalui UU No 32 Tahun 2003 Kota Sukabumi dinaikan levelnya menjadi Kota. Wilayah administratif Kota ini secara umum lebih
mewakili distrik Sukabumi dimasa lalu dimana batas-batas kuno sudah ditancapkan
oleh pendahulu kita dimasa lampau. Setiap peristiwa yang berlangsung dalam
perkembangan kota ini pada akhirnya bisa kita ambil hikmah untuk menatap masa
depan dengan menghindari setiap peristiwa pedih yang pernah terjadi dan
menjadikan inspirasi setiap peristiwa mengagumkan dimasa lalu, untuk masa depan
Kota Sukabumi yang Lebih baik
Selamat Hari jadi Kota Sukabumi ke 104.

Hallo kak... Untuk buku Soekaboemi The Untold Story kisah dibalik sejarah sukabumi... Saya bisa liat bukunya di mana saja ya kak? Kira² di Gedung juang Sukabumi/perpustakaan dan Arsip sukabumi ada gk ya? Soalnya saya sedang menyusun skripsi dan membutuhkan buku tersebut kak
BalasHapus