Selasa, 08 Mei 2018

SEJARAH POLRES SUKABUMI KOTA
Polisi Kota Sukabumi memiliki sejarah yang panjang seiring perjalanan sejarah polisi nasional. Bermula dari unit-unit polisi parsial yang menjaga beberapa area seperti polisi desa, ronda, opas polisi (Politiepasser) dan kepala keamanan (schouten) yang menjaga wilayah kota seperti pasar dan wilayah strategis seperti pendopo, bahkan ada petugas kemanan yang khusus menjaga asset pengusaha seperti penjaga keamanan di perkebunan-perkebunan Sukabumi seperti Sinagar, Goalpara, Perbawati. Sementara di desa-desa seperti Parungseah ditempatkan semacam pertahanan sipil yang ditugaskan karena kurangnya personnel polisi, semacam ronda yg terkoordinir, selain menjaga keamanan mereka harus mengurusi pencuri hingga masuk ke dan mengikuti BAP (Marieke Bloembergen: Polisi Zaman Hindia Belanda antara kepedulian dan ketakutan).
Pada masa tersebut secara umum wewenang kepolisian berada ditangan residen yang dibantu oleh asisten residen dimana rechts politie dipertanggungjawabkan pada procureur generaal (Jaksa Agung). Laporan-laporan polisi menjadi rujukan pengadilan seperti laporan polisi Sukabumi terhadap Said Achmad bin Moehammed As Sagaf tanggal 1 November 1865 di sukabumi. Dipersembahkan dengan segala hormat kehadapan Padoeka Toewan Direkteur PF Wegener, jang termadjelis di Soekaboemi, Kangdjeng Toewan Directeur Priksa Bapa Arnas, Toekang Besi Warangtjerme, Kotta Soekaboemi, nanti Padoeka Kangdjeng Toewan Directeur boleh dapat resia lebih panjang dan menoeroet dija poenja bitjara satoe kaboektian besar, dija tiada maoe bitjara dihadapan kangdjeng toewan assistent resident Soekaboemi, tetapi nanti maoe dihadapan perdata-perdata agoeng, karena takoet pada patih.... (Mencari Tuhan dengan Kacamata Barat karya Karel A Steenbrink).
Menjelang proses desentralisasi di Sukabumi sekitar tahun 1897, unit-unit keamanan kemudian  digantikan oleh Korps Kepolisian yang terintegrasi yaitu Gewapende Politie (Polisi bersenjata), meskipun begitu unit-unit keamanan mandiri masih tetap ada terutama untuk keperluan para pengusaha. Namun untuk keamanan masyarakat Tionghoa Kota Sukabumi yang menempati Chinesekamp (Jalan raya hingga jalan pelabuhan 2) diserahkan kepada seorang Kapitan Tionghoa yang sudah ditunjuk pada tanggal 7 Februari 1892, yaitu Sim Ken Koen (Melly G tan, Chinese of Soekaboemi). Untuk para penjaga malam, penjaga penjara (Gevangenis nyomplong), polisi khusus untuk opium, kopi, kehutanan, penjaga transportasi narapidana  dan mantri polisi dibawahi Polisi Gubernemen.
Perubahan status Kota Sukabumi menjadi Gemeente Pada Tanggal 1 April 1914 menyebabkan Kota Sukabumi menjadi mandiri, perubahan ini juga diikuti oleh kepolisian yang melakukan reorganisasi secara modern, sehingga kepolisian di Kota Sukabumi terdiri dari Stad Politie (Polisi Kota), Gewapende Politie (Polisi Bersenjata), Veld Politie (Polisi Lapangan), Bestuur Politie (Polisi pamong Praja), dan Cultuur Politie (Polisi Pertanian) yang mengamankan wilatah pertanian dan saluran irigasi masyarakat. Karena proses reorganisasi sangat yang cepat, menyebabkan fasilitas penunjang yang belum siap.  Kantor Polisi saat itu menempati sebuah bangunan bekas milik patih yang dibeli pemerintah pada bulan mei 1914 untuk nantinya dibangun kantor pos, namun selama belum dibangun maka bangunan tersebut difungsikan sebagai kantor polisi (Batavia's Nieuwsblaad Mei 1914). Sementara gedung afsdeling Bank (Bank Mandiri Sekarang depan capitol, sebelah kantor pos) mulai tahun 1914-1918 dipinjam oleh Gemeente untuk dijdikan kantor karena balaikota (stadhuis) belum dibangun.
Kondisi hampir sama terjadi di Markas Pusat Korps Polisi Bersenjata (Gewapende Politie) di Jalan Vogelweg (Bhayangkara-Cikal Bakal Sekolah Polisi) yang sudah dibeli pemerintah sekitar April 1912. Markas tersebut dibangun tahun 1912-1913, namun bangunannya masih dominan dari bahan bambu sehingga kurang layak. Pada bulan September 1912 Mako Polisi Bersenjata ini dihuni 1.200 orang termasuk keluarga, sehingga lingkungannya padat dan tidak higienis, seperti saluran sanitasi dan pembuangan limbah yang tidak jelas, mengakibatkan berjangkitnya wabah kolera dikawasan markas, sampai terjadi keempat kalinya. Dirumah sakit yang masih sederhana, ditemukan 30 orang dari 100 pasien menderita penyakit beri-beri. Bangunannya juga tidak memenuhi estetika dan merusak keindahan kota, sehingga muncul kritikan dari van Delden, pemilik Villa indah diisisi atas kawasan asrama, ia menggambarkan keadaan asrama yang  tidak higienis, kumuh, dan tidak adanya pembangunan yang memperbaiki kondisi asrama. Kritiknya sangat krass dengan menyatakan een min eevolle aftocht (mundur lebih terhormat) dan menganggap pemerintah tak punya uang. Semenjak itu kemudian di lingkungan markas pusat Korp Polisi bersenjata (Gewapende Politie)dilakukan perbaikan bertahap  mulai tahun 1917 sampai dengan 1919 dan mendirikan bangunan baru dengan bentuk yang lebih permanen, termasuk bangunan-bangunan berbentuk paviliun dan layak huni dilengkapi pembangkit tenaga listrik, gereja, dll.
Kota Sukabumi mengalami perubahan administrasi mengingat tanggal 24 April 1921 dibentuk pemerintahan Regentscha (Kabupaten) Sukabumi sebagai peningkatan Afdeling, untuk sementara kantor sekretariat dan dewan kabupaten ditempatkan satu atap dengan kantor polisi (di Kantor pos sekarang). Sementara itu perubahan terjadi pada tahun 1922 sampai 1924, pemerintah kolonial mengevaluasi keberadaan Korps Polisi bersenjata akibat kelesuan ekonomi yang berimbas pada penghematan, karena perannya dianggap berlebihan (overbodig) maka personilnya digabung ke Satuan Polisi Lapangan (Veld Polisi). Pada bulan Mei 1925 sehubungan dengan rencana penyusutan kepolisian bersenjata dan pengalihannya mejadi unit-unit lapangan, maka sejak 1925 banyak bangunan Depo Kepolisian Polisi bersenjata di Sukabumi tidak lagi terpakai. Bangunan Sekolah Polisi atau Veld Politie School akhirnya digunakan sebagai Sekolah Pelatihan Staf Polisi Umum yang dipindahkan dari Bogor. Maka, pada 25 Januari 1925 ditetapkan bahwa Sekolah Pelatihan untuk staf  Polisi Umum di Bogor dan markas pusat digabung salah satu organisasi dengan nama "Sekolah Pelatihan Staf Polisi", yang didirikan Di Sukabumi, Sementara Markas Veld Politie serta asramanya dibangun dan digunakan di degung jalan Cipelang.
Kondisi Sukabumi saat itu sedikit memanas akibat sabotase fasilitas umum, yaitu pemutusan kabel telepon di Palabuhanratu dan Cibadak pada tahun 1926. Pemimpin sabotase itu bernama Haji Siakoesih dari Cisande, distrik Cibadak dan Moegli alias Oeli dari Desa Parakanlima, distrik Cibadak. Selain kedua orang itu, sabotase juga dibantu oleh seorang opas dan seorang jurutulis polisi dari desa Lembur, selatan Sukabumi. Mereka kemudian ditangkap dan diadili. Untuk mengatasi hal yang sama terutama saat memanasnya kader-kader PKI sehingga pecah pemberontakan Komunis maka di Kantor Polisi dan juga di sekolah polisi untuk calon perwira diwajibkan melakukan simulasi perburuan dan pengejaran terhadap anggota komunis yang sedang mengadakan rapat gelap, mereka dikategorikan sebagai penjahat yang sangat berbahaya. Pekerjaan rumah tahunan siswa sekolah polisi adalah merancang rencana mobilisasi sebagai reaksi terhadap pecahnya pemberontakan masyarakat Sukabumi terhadap Polisi. Sementara untuk petugas polisis diadakan pelatihan polisi selama 9 bulan (De Indische courant 02-02-1927)
Tahun 1928 pembangunan kantor pos dimulai sehingga kantor polisi harus dipindahkan ke belakang toko de Gryd (Cikal bakal bioskop Indra), bersebrangan dengan dinas pemadam kebakaran. Setahun kemudian yaitu ahun 1929 Afdelingbank membangun gedung baru disudut lodjiweg (sekarang Bank BRI), sesudah bangunan selesai dibangun, afdelingsbank pindah dari gedung lama (Bank Mandiri A yani depan capitol) , gedung lama direnovasi dan dijadikan kantor polisi (Bataviaasch Nieuwsblaad 30 September 1929). Namun tetap muncul Keluhan ketidaklayakan kantor polisi saat itu sehingga diperimbangkan untuk mencari tempat baru yang lebih permanen (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië 19-08-1930). Kantor polisi semakin sibuk bahkan mulai bulan september 1931 sidang pengadilan landgerecht dilaksanakan di kantor polisi, tidak lagi di gedung pengadilan (Landraad). (Het nieus van den dag voor Nederlandsch indie 02 septemer 1931). Masalah-masalah kriminal semakin berat diantaranya Penemuan Morfin selundupan orang  jepang Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië 12-11-1931. Kondisi kantor polisi semakin kurang nyaman dimana pada masa-masa tertentu seperti musim hujan kurang nyaman, pernah terjadi Hujan deras dan pohon tumbang dibelakang kantor polisi menimpa sebagian kecil bangunan ( Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië 12-01-1932).
Pemeritah akhirnya melirik sebuah bangunan bekas inlandsche school dan europeesch school yang dijadikan kantor gemeente sementara , saat kantor gemeente selesai dibangun maka bekas sekolah tersebut kosong sehingga diputuskan pada tahun 1933 bangunan tersebut dijadikan kantor polisi yang sekarang menjadi Mapolresta Sukabumi. Peran polisi dalam penanganan kota semakin penting, saat itu kondisi Hindia Belanda mengalami malaise sehingga banyak tindak kejahatan, salah satunya adalah Perampokan di sekitar Odeon (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië 07-05-1935 ). Saat pecahnya perang Dunia I polisi Sukabumi dilibatkan untuk mencari orang-orang Jerman di Kota Sukabumi dan menggeledah setiap rumah untuk menemukan bukti keterlibatan mereka sebagai mata-mata (Soerabaijasch handelsblad 17-05-1940).
Kondisi Asia Tenggara saat itu semakin genting mengingat Jepang sudah melirik Hindia Belanda yang mempunyai sumber alam melimpah. Pada tanggal 24 September 1940 Kantor Polisi Sukabumi diperintahkan untuk melakukan pengamanan atas delegasi Jepang yang membawa 24 orang ke Hotel Selabintana dalam rangka perundingan antara Jepang dan Hindia Belanda yang dipimpin oleh Kobajashi dan dari Pemerintah Hindia Belanda adalah Van Mook. Rupanya perundingan tersebut mengalami kegagalan sehingga memberi jalan kepada jepang untuk menyerang Hindia Belanda dengan terlebih dahulu menghancurkan Pearl Harbor. Polisi juga disibukan dengan munculnya pejuang yang diasingkan di Sekolah Polisi yaitu Hatta dan Syahrir. Situasi ini kemudian terbukti setahun kemudian dimana Jepang menyerang Hindia Belanda dan membom Kota Sukabumi pada tanggal 6 september 1942. Markas Polisi Militer dibelakang mesjid Agung kemudian hancur berantakan sementara seluruh pejabat Belanda melarikan diri ke Bandung, termasuk pra polisi bergabung dengan tentara KNIL melawan Jepang namun hasilnya hancur berantakan, Jepang menyerah 9 Maret 1942.
Dua  hari kemudian Komisaris Polisi Asikin memberitahukan supaya asrama polisi tempat Hatta dan Syahrir ditahan agar dikembalikan fungsinya menjadi pada sekolah polisi. Namun Hatta menolak dan akan menyerahkan pada Jepang karena Belanda sudah tak berkuasa lagi. Jepang kemudian membentuk kembali badan kepolisian (Keisatsutai) . Merekrut kembali bekas polisi pribumi yang mau bekerjasama dan memfungsikan kembali Sekolah Polisi dan dirubah menjadi Djawa Geisatsu Gakko. Kepolisian dibagi menjadi 3 bidang tugas: Koto Kei Satsuka (DPKN atau Intelkam sekarang), Kei Mu Ka (Umum), dan Keizal Ka (Ekonomi) (Hoegeng: Oase menyejukan ditengah perilaku koruptif bangsa, Aris Santoso dkk, Mizan). Jepang juga membentuk badan-badan pelatihan pemuda untuk keperluan diantaranya Keibodan (Barisan Bantu Polisi). Keibodan dibawahi kepolisian dan Sukabumi Menjadi pusat pelatihan Keibodan (Sejarah Revolusi Kemerdekaan 1945-1949 di Yogyakarta, Tashadi, Proyek Inverntarisasi dan Dokumentasi sejarah Indoenesia 1991). Pada awalnya kepala Polisi Sukabumi diangkat seorang pribumi bernama Bustami, namun kemudian digantikan oleh perwira Jepang (Moehamad Roem 70 Tahun pejuang Perunding, bulan bintang, 1978, cabinet officers). Jepang kemudian memfokuskan semua sumberdaya untu keperluan perang, para polisi dan siswa sekolah polisi juga dikaryawakan untuk membuka sebuah lahan di Selabintana untuk keperluan Jepang. Jepang juga membangun Lapangan Inada (Danalaga Square sekarang) yang dipergunakan sebagai lapangan Sepakbola dan juga latihan tentara. Jatuhnya bom atom di Hiroshima dan nagasaki menandai berakhirnya kekuasaan Jepang di Asia Tenggara. Indonesia tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk memproklamasikan Kemerdekaan.
Pasca Proklamasi Kemerdekaan, kepolisian Sukabumi terlibat aktif dalam pengambilalihan kekuasaan. Di Sekolah Polisi Jepang masih bertahan, senjata dari sekolah kepolisian Sukabumi ke Markas tentara Jepang untuk menghindari perlawanan bersenjata. Inspektur Sekolah Polisi Raden Said Soekanto kemudian memaksa Jepang untuk megibrkan bendea merah putih dan mengembalikan senjata serta menyerahkan kekuasaan kepada pemerintah Indonesia, Jepang akhirnya menberikan 25 pucuk senjata untuk pengamanan namun meminta pengalihan kekuasaan terjadi sesudah munculnya pasukan sekutu, sementara merah putih boleh dikibarkan bersebelahan dengan bendera jepang. Said Soekanto kemudian berangkat dari Sukabumi menuju Jakarta dan menemui Bung Karno meminta pengambilalihan Sekolah Polisi, Bung Karno belum memberikan jawaban malahan mengangkat dia menjadi Kepala Polisi negara. Said Soekanto menginstruksikan untuk segera mengambilalih Sekolah polisi paling lambat 1 Oktober 1945 (Madjalah Pantja Warna 1956-perayaan ulang tahun Sekolah Polisi X 15 Desember 1955).
Panitia lima dibentuk di Kota Sukabumi  yang terdiri dari Suryana (BKR), Sukoyo (Kepolisian), S. Waluyo (KNID), Abdurrohim (Ulama), dan Ali Basri (perwakilan dari kecamatan). Rencana Panitia lima diantaranya:
1.      Membebaskan para Tahanan
2.      Mengibarkan Bendera Merah Putih di Seluruh Jawatan dan instansi, serta di pelosok kota dan kabupaten.
3.      Mengganti Kepala-kepala jawatan yang dipegang oleh Jepang untuk diganti degan orang indonesia.
Kepala kepolisian yang sedang menjabat bernama Sadeli dianggap tidak layak dan bukan polisi pejuang sehingga dilengserkan oleh masyarakat ( sekitar perang kemerdekaan Indonesia vol 2, AH Nasution, 1991). Pemerintahan Sipil dan Kepolisian yang dipimpin oleh Harun SH, R. Bidin Surya Gunawan, R. Muhyi, dan R. Adiwikarta. Pasca pengambilalihan kekuasaan terjadi beberapa kali bentrokan dnegan pasukan sekutu yang berpuncak pada bulan Desember 1945 terjadi pertempuran konvoi melawan pasukan Inggris yang tidak menepati perjanjian, Para polisi banyak yang bergabung dengan para pejuang dalam pertempuran. Terjadi banyak ketegangan dan saling curiga hingga muncul peristiwa pembunuhan Raden Ibrahim Sastranegara, adik penerbang dan pahlawan yang dijadikan nama bandara di Bandung. Ibrahim menjabat sebagai inspektur polisi Cicurug dan dituduh berkhianat.
Pada tanggal 1 Juli 1947 Belanda melakukan agresi militer ke Sukabumi, para pejuang melakukan politik bumi hangus. Kepala Kepolisian Sukabumi Bidin Suryagunawan dan pejabat kepolisian Bogor Sumbada bersama sebagian polisi kota menggabungkan diri dengan TNI membentuk markasnya di Nyalindung di bawah pimpinan Kolonel Kawilarang dan terus melakukan perang gerilya. Sekolah polisi mengungsi ke Gunung Buleud 20 km dari Kota Sukabumi kearah selatan. Para pejuang melakukan pengacauan dan juga membunuh orang-orang yang masih membantu Belanda termasuk para polisi. Pada tanggal 27 agustus 1947 terjadi pembakaran pabrik terjadi di cipenjeuh, lurah dan polisi desa citancam (cican-tayan) ditemukan tewas. Tanggal 9 september 1947 Pukul 8.15 pagi terjadi penyerangan di pabrik teh pada asih oleh lima orang kelompok bersenjata senapan otomatis. Pa entong (polisi perkebunan) tewas ditembak, lainnya luka-luka (Military archive).
Belanda kemudian memaksa para pejuang hengkang melalui persetujuan Renville. Para pejuang akhirnya hijrah ke Jawa Tengah dan Yogyakarta sehingga kota Sukabumi sepenuhnya dikuasai Belanda, namun masih ada sebagian pejuang yang bertahan. Pada masa itulah Belanda menguasai kepolisian dan membentuk laskar Poa An Tui yang terdiri dari masyarakat Tionghoa di Kota Sukabumi. Polisi digunakan untuk melumpuhkan akses Pejuang dan masyarakat diadu domba dan dihasut untuk tidak membantu pejuang. NICA kemudian membentuk pemerintahan vesi Belanda di Kota Sukabumi. Masyarakat termasuk juga polisi mulai terbelah ada yang berpihak kepada Belanda karena takut dan ada yang berpihak kepada para pejuang, Perpecahan ini terlihat hjelas saat para Pejuang kembali dari Jawa tengah (Long March) dan bergerilya di Sukabumi. Polisi bentukan Belanda pada akhirnya jadi sasaran serangan perjuangan seperti kelompokpimpinan desersir tentara Belanda yaitu Poncke Princen, melakukan serangan di pos polisi Baros yang berkekuatan 40 orang. Kepala polisi ketakutan sehingga sekitar 35 orang polisi dilucuti dan digiring oleh 7 orang  ke arah sungai. Di sana para polisi itu dibubarkan dan disuruh pulang, kemudian  melakukan penyergapan kembali di Pos Polisi Sukaraja. Serangan dilakukan pukul 2 malam. Penyergapan berlangsung tanpa perlawanan karena para polisi tidak siap, sekitar 40 orang polisi ditahan dan ditempatkan di kamp dekat gunung gede. Sementara sekolah polisi Sukabumi pada tahun 1948 berhasil mencetak polwan pertama sebanyak 6 orang yang dididik di sekolah polisi Sukabumi dan dilantik sebagai polwan pertama tahun 1951.
Pasca pengakuan kedaulatan desember 1949 pasukan Belanda hengkang dari Indonesia dan kepolisian Sukabumi dibentuk kembali. Pada masa itu polisi disibukan dengan gangguan keamanan dari gerombolan DI/TII yang seringkali masuk kota. Masyarakat ketakutan karena seringkali terjadi pencegatan sehingga moda transortasi hanya ada sampai pukul 6.0 sore, selepas itu jalanan sepi. Polisi terus berbenah, sejumlah anggota Mobrig (Brimob sekarang) menyelesaikan pelatihan mereka di sekolah polisi di Sukabumi untuk pertama kalinya. (De nieuwsgier 02-07-1951)
Pembangunan lambat laun dilakukan, Untuk sarana olahraga Sekolah Polisi Negara membangun sebuah stadion sepakbola (sekaligus atletik) pada awal 1950-an dan dibuka pada 22 Desember 1951. Stadion ini mempunyai tribune dengan kapasitas 1000 penonton dan music hall. (Aneka, Tahun ke III No.1 1 Maret 1952). Yayasan Pusat Pertukangan Besi Nasional di Cibatu pada 1953 giat melakukan pembuatan klewang polisi lengkap dengan werangka dan ikat pinggangnya sebanyak 2500 buah (Pikiran Rakjat, 31 Januari 1953). polisi sukabumi termasuk para siswa sekolah polisi juga diperbantukan dalam menumpas pemberontakan DI/TII di Gunung Gede dan Jampang. Sebuah patroli gabungan tentara dan Barisan Perintis sempat bertemu dengan pasukan sekitar 100 orang DI/TII dan terlibat pertempuran (Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie 04-04-1955). Pada tahun 1956 polisi menangkap Kepala perumahan Sukabumi ditangkap Bapak R. A. Dujeh Sutadipura atas tuduhan penyalahgunaan jabatan (Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie 07-09-1956). Polisi juga berhasil menangkap pengedar opium ilegal ditangkap Hari-hari ini seorang pedagang di Kebori Kalapa (Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode 15-08-1957).
DI/TII terus merajalela diantaranya di Sudajaya membakar kampung dan merampok tahun 1958Bulan September tahun  1961 Bupati Sukabumi versi DI/TII tertangkap di Cipelang. Tentara, Polisi dan Masyarakat kemudian bekerjasama membentuk operasi pagar betis di lereng Gunung Gede sampai akhirnya DI/TII bisa ditumpas. Pasca selesainya pemberontakkan DI/TII Polisi kembali disibukan dengan kerusuhan rasialis di Kota Sukabumi yang menghancurkan pasar, toko dan rumah-rumah. Kepala polisi Sukabumi melakukan hubungan telpon dengan Gubernur dan juga kepala polisi jawa barat untuk mengatasi kekacauan 1963 (Pilot proyek selo sumarjan). Sementara kepala sekolah kepolisian memerintahkan kendaraan-kendaraan yang dititipkan di parkiran sekolah didorong keluar karena ternyata tanpa seijinnya hanya dimasukan begitu saja. Selain itu muncul isu bahwa Guntur Sukarnoputra yang akan memimpin aksi terhadap warga Tionghoa dan sudah berada di Cianjur dengan dikawal polisi menuju Sukabumi. Peristiwa hari itu berakhir pukul 18.30. Pemerintah kota akhirnya memberlakukan jam malam. Namun keesokan harinya muncul pengrusakan yang diawali oleh anak kecil (pelajar SD) sehingga polisi hanya bisa menghalau mereka tanpa berani melakukan tindakan represif. Kejadian ini disusul dengan pengrusakan masal Dalam gelombang kedua ini mereka bukan saja membakar rumah dan toko tapi juga mobil-mobil, motor, gedung-gedung pabrik dan bangunan pasar, tembakan peringatan polisi sudah tidak dihiraukan. Terjadi kebakaran di kompleks pasar, di jalan pasar dan gang ikan yang mengakibatkan bangunan seluruh pasar dan bebrapa toko di tepi jalan pelabuhan habis terbakar. Keamanan bisa dipulihkan sesudah datang bantuan dari Bogor. Parapelaku kemudian ditangkap dan diadili.
Politik masa itu memanas sehingga polisi dilibatkan untuk pengamanan, Akhirnya beliau dibuang ke Sukabumi tahun 1964 tepatnya dikompleks sekolah polisi secapa. Tokoh politik dan ulama Buya diamankan ke Sukabumi. Sementara di masyarkat muncul saling curiga akibat konflik parta komunis dan partai anti komunis. Sementara peran spionase PKI di Sukabumi juga terbukti dalam Mahmilub dengan ditemukannya surat-surat Sudisman (Anggota CC PKI) beserta denah (Plattegrond) sekolah polisi Sukabumi dalam arsip SBKP (serikat buruh kementrian pertahanan) yang berisi beberapa petunjuk untuk menguasai Sekolah polisi. Sukabumi juga menjadi bagian dari skenario pemberontakan yang diatur Sjam Kamaroezaman (Djawa adalah Kuntji), yaitu bilamana pemberontakan gagal maka ada 3 basis pengunduran yaitu Sukabumi Selatan, Merapi Merbabu Complex dan Blitar Selatan.
Kegagalan aksi  G 30/S/PKI menjadikan Sukabumi menjadi tempat pelarian, diantaranya Sumiyarsih yang dijuluki Dokter Lubang Buaya tertangkap dan diinterogasi di Kantor Polisi sukabumi. Ketegangan belum usai karena terjadi aksi pengambilalihan aset-aset masyarakat Tionghoa di Sukabumi seperti gedung pertemuan Kong So dan Sekolah Tionghoa. Suasana baru sesudah tumbangnya orde lama seolah terlepas dari kekangan, terjadi euforia kaum muda dari akademisi yang sangat kritis, misalnya dalam kasus Rene Conrad Mahasiswa ITB yang tewas dikeroyok Taruna Akpol pada tahun 1970, kasus yang merenggangkan hubungan mahasiswa dan militer ini sempat membuat aksi long march Ketua Dewan Mahasiswa  ITB, Syarif Tando dan mengadakan demonstrasi bersama mahasiswa dan pelajar dari Bandung di depan Akademi Kepolisian (Akabri-Polisi) di Kota Sukabumi.
Pada tahun-tahun berikutnya persoalan kota menyangkut masalah antar gang, muncul nama-nama gang seperti Silbra, Alcanza, Meses, Saloka, Tipar,dan lain-lain. Mereka sering berseteru satu sama lain dan berkelahi sehingga beberapa diantaranya terluka bahkan tewas untuk mempertahankan kehebatan gangnya. Isu keamanan terkadang muncul dari peristiwa di sekitarnya, misalnya pada tanggal 20 April 1979 ada kabar yang beredar di Sukabumi bahwa seorang penjahat kelas kakap yang konon juga disebut Robinhood karena sering merampok toko emas dan membagikannya ke masyarakat, tertangkap di Gunung Guruh yaitu Johny Indo. Johny yang saat itu dicari-cari pihak keamanan karena ulahnya yang sering merampok dengan kelompoknya pachinko (pasukan Cina Kota), rupanya bersembunyi di Gua Kutamaneuh Gunung Guruh sambil bertirakat, namun ternyata keberadaannya terendus koramil Gunung Guruh dan langsung dilakukan perburuan hingga tertangkap dan dibawa ke kantor polisi Sukabumi sebelum akhirnya dibawa ke Nusakambangan.
Tiga bulan kemudian warga Kota kembali dihebohkan dengan berita pembunuhan berdarah dingin yang dilakukan tentara Edi Sampak yang menewaskan 5 orang dan empat luka parah. Korban tewas adalah Sersan Sutardjat, Daeng Rusyana, Djudjun, Sugandi, dan seorang lelaki. Sersan Mayor Sutardjat, yang merupakan juru bayar Kodim 0608 Cianjur, bertugas mengambil gaji pegawai di Bank Karya Pembangunan, Sukabumi, Jawa Barat. Eddy dibantu Odjeng kemudian memberondong mereka di perkebunan Gekbrong dengan senjata Carl Gustaf. Eddy Sampak diburu dan akhirnya ditangkap seminggu kemudian di Cigintung. Sayangnya Eddy berhasil melarikan diri dari Rumah Sakit tahanan Militer Cimahi dan menghilang tanpa jejak. Pada era tahun 1980-an juga sempat santer tentang petrus alias penembak misterius, biasanya sasarannya para preman yang ditembak dan dibuang seenaknya, istilah masyarakat “dikarungan”, hal ini karena merajalelanya preman sehingga Presiden Suharto membuat operasi khusus. Banyak mayat yang ditemukan di jalan Plabuan, di pabuaran atau diluar Kota seperti Gegerbitung, Sukaraja, Cipriangan misalnya yang dibawa ke Kota oleh polisi sesudah ditemukan masyarakat.

Daftar Pustaka
·         ANRI, 2014, Citra Kota Sukabumi dalam Arsip, Arsip Nasional Republik Indonesia
·         Disjarah TNI AD. (1985). Penumpasan Pemberontakan DI/TII S. M. Kartosuwiryo di Jawa Barat. Bandung: Disjarah TNI AD, hlm. 118. 3 Disjarah TNI AD. (1972). Cuplikan Sejarah Perjuangan TNI Angkatan Darat. Bandung
·         Gunseikanbu, 1986, Orang Indonesia Jang Terkemoeka di Djawa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, Indonesia,  Indonesia,
·         Jaya, Ruyatna, 2002,  Sejarah Sukabumi, PEMDA [Pemerintah Daerah] Kota Sukabumi.
·         Stinnett, Robert, Day Of Deceit: The Truth About FDR and Pearl Harbor,  Mook, Hubertus, 1944, The Netherlands, Indies and Japan: Their Relations 1940-1941, G. Allen & Unwin ltd, London
·         Soemardjan, Prof. Selo, 1963, Gerakan 10 Mei 1963 di Sukabumi, PT. Eresco Bandung
·         Tan, G Melly, 1963, The Chinese of  Sukabumi: a Study in Social and Cultural Accomodation, Ithaca, New York
·         Iskandar, Yoseph, Dedi Kusnadi, Jajang Sriyani, 1997, Pertempuran Konvoy Sukabumi-Cianjur 1945-1946, Sukardi LTD Ptd, Jakarta
·         Lestariningsih, Amurwani Dwi, 2011, Gerwani: Kisah Tapol Wanita di Kamp Platungan, Kompas, jakarta
·         Steenbrink, Karel, 1988, Mencari Tuhan dari Kacamata Barat Vol.1, IAIN Kalijaga Press, Yogyakarta
·         Iskandar, Yoseph, Perang Konvoi Sukabumi-Cianjur 1945-1946, Mata Padi, Jakarta
·         Firmansyah, Irman, Soekaboemi the Untold Story, Yayasan dapuran Kipahare, Sukabumi 2017.
·         ___________, Kota Sukabumi: Menelusuri Jejak Masa Lalu, Soekaboemi Heritages,SUkabumi, 2017
·         Tanumidjaja, Irjen Pol Memet, 1971, Sejarah Perkembangan Angkatan Kepolisian, Departemen Pertahanan Keamanan Pusat Sejarah Abri, Jakarta
·         Bloembergen, Marieke: Polisi Zaman Hindia Belanda antara kepedulian dan ketakutan, KITLV, Jakarta, 2009
·         Nasution, AH, sekitar perang kemerdekaan Indonesia vol 2, Jakarta, 1991
------ Sebagian hasil penelusuran Wa Achmad Soleh tentang letak kantor polisi
------ Foto Kang Joni Janaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar