SEJARAH POLRES SUKABUMI KOTA
Polisi
Kota Sukabumi memiliki sejarah yang panjang seiring perjalanan sejarah polisi
nasional. Bermula dari unit-unit polisi parsial yang menjaga beberapa area
seperti polisi desa, ronda, opas polisi (Politiepasser) dan kepala keamanan
(schouten) yang menjaga wilayah kota seperti pasar dan wilayah strategis
seperti pendopo, bahkan ada petugas kemanan yang khusus menjaga asset pengusaha
seperti penjaga keamanan di perkebunan-perkebunan Sukabumi seperti Sinagar,
Goalpara, Perbawati. Sementara di desa-desa seperti Parungseah ditempatkan semacam
pertahanan sipil yang ditugaskan karena kurangnya
personnel polisi, semacam ronda yg terkoordinir, selain menjaga keamanan mereka
harus mengurusi pencuri hingga masuk ke dan mengikuti BAP (Marieke Bloembergen:
Polisi Zaman Hindia Belanda antara kepedulian dan ketakutan).
Pada masa tersebut secara umum wewenang kepolisian berada
ditangan residen yang dibantu oleh asisten residen dimana rechts politie
dipertanggungjawabkan pada procureur generaal (Jaksa Agung). Laporan-laporan
polisi menjadi rujukan pengadilan seperti laporan
polisi Sukabumi terhadap Said Achmad bin Moehammed As Sagaf tanggal
1 November 1865 di sukabumi. “Dipersembahkan dengan segala hormat kehadapan Padoeka Toewan Direkteur PF Wegener, jang termadjelis di Soekaboemi, Kangdjeng Toewan Directeur Priksa Bapa Arnas, Toekang Besi Warangtjerme,
Kotta Soekaboemi,
nanti Padoeka Kangdjeng Toewan Directeur
boleh dapat resia lebih panjang dan menoeroet dija poenja bitjara satoe
kaboektian besar, dija tiada maoe bitjara dihadapan kangdjeng toewan assistent
resident Soekaboemi,
tetapi nanti maoe dihadapan perdata-perdata agoeng, karena takoet pada
patih....” (Mencari Tuhan dengan Kacamata Barat karya Karel A Steenbrink).
Menjelang proses desentralisasi di Sukabumi sekitar tahun 1897, unit-unit
keamanan kemudian digantikan oleh Korps
Kepolisian yang terintegrasi yaitu Gewapende Politie (Polisi bersenjata),
meskipun begitu unit-unit keamanan mandiri masih tetap ada terutama untuk
keperluan para pengusaha. Namun untuk keamanan masyarakat Tionghoa Kota
Sukabumi yang menempati Chinesekamp (Jalan raya hingga jalan pelabuhan 2) diserahkan
kepada seorang Kapitan Tionghoa yang sudah ditunjuk pada tanggal 7 Februari 1892, yaitu Sim Ken Koen (Melly G tan, Chinese of
Soekaboemi). Untuk para penjaga malam, penjaga
penjara (Gevangenis nyomplong), polisi khusus untuk opium, kopi, kehutanan,
penjaga transportasi narapidana dan
mantri polisi dibawahi Polisi Gubernemen.
Perubahan status Kota Sukabumi menjadi Gemeente Pada Tanggal 1 April 1914 menyebabkan Kota
Sukabumi menjadi mandiri, perubahan ini juga diikuti oleh kepolisian yang
melakukan reorganisasi secara modern, sehingga kepolisian di Kota Sukabumi
terdiri dari Stad Politie (Polisi Kota), Gewapende Politie (Polisi Bersenjata),
Veld Politie (Polisi Lapangan), Bestuur Politie (Polisi pamong Praja), dan
Cultuur Politie (Polisi Pertanian) yang mengamankan wilatah pertanian dan
saluran irigasi masyarakat. Karena proses reorganisasi sangat yang cepat,
menyebabkan fasilitas penunjang yang belum siap. Kantor Polisi saat itu menempati sebuah
bangunan bekas milik patih yang dibeli pemerintah pada bulan mei 1914 untuk
nantinya dibangun kantor pos, namun selama belum dibangun maka bangunan
tersebut difungsikan sebagai kantor polisi (Batavia's Nieuwsblaad Mei 1914). Sementara
gedung afsdeling Bank (Bank Mandiri Sekarang depan capitol, sebelah kantor pos)
mulai tahun 1914-1918 dipinjam oleh Gemeente untuk dijdikan kantor karena
balaikota (stadhuis) belum dibangun.
Kondisi
hampir sama terjadi di Markas Pusat Korps Polisi
Bersenjata (Gewapende Politie) di
Jalan Vogelweg (Bhayangkara-Cikal Bakal Sekolah Polisi) yang sudah dibeli pemerintah sekitar April 1912. Markas
tersebut dibangun tahun 1912-1913, namun bangunannya masih dominan dari bahan bambu
sehingga kurang layak. Pada bulan September 1912 Mako Polisi Bersenjata ini
dihuni 1.200 orang termasuk keluarga, sehingga lingkungannya padat dan tidak
higienis, seperti saluran sanitasi dan pembuangan limbah yang tidak jelas,
mengakibatkan berjangkitnya wabah kolera dikawasan markas, sampai terjadi
keempat kalinya. Dirumah sakit yang masih sederhana, ditemukan 30 orang dari
100 pasien menderita penyakit beri-beri. Bangunannya juga tidak memenuhi
estetika dan merusak keindahan kota, sehingga muncul kritikan dari van Delden,
pemilik Villa indah diisisi atas kawasan asrama, ia menggambarkan keadaan
asrama yang tidak higienis, kumuh, dan
tidak adanya pembangunan yang memperbaiki kondisi asrama. Kritiknya sangat
krass dengan menyatakan een min eevolle
aftocht (mundur lebih terhormat) dan menganggap pemerintah tak punya uang. Semenjak
itu kemudian di lingkungan markas pusat Korp Polisi bersenjata (Gewapende
Politie)dilakukan perbaikan bertahap mulai
tahun 1917 sampai dengan 1919 dan mendirikan bangunan baru dengan bentuk yang lebih permanen, termasuk bangunan-bangunan
berbentuk paviliun dan layak huni dilengkapi pembangkit tenaga listrik,
gereja, dll.
Kota
Sukabumi mengalami perubahan administrasi mengingat tanggal 24 April 1921
dibentuk pemerintahan Regentscha (Kabupaten) Sukabumi sebagai peningkatan
Afdeling, untuk sementara kantor sekretariat dan dewan kabupaten ditempatkan
satu atap dengan kantor polisi (di Kantor pos sekarang). Sementara itu
perubahan terjadi pada tahun 1922 sampai 1924, pemerintah kolonial mengevaluasi
keberadaan Korps Polisi bersenjata akibat kelesuan ekonomi yang berimbas pada
penghematan, karena perannya dianggap berlebihan (overbodig) maka personilnya
digabung ke Satuan Polisi Lapangan (Veld Polisi). Pada bulan Mei 1925
sehubungan dengan rencana penyusutan kepolisian bersenjata dan pengalihannya
mejadi unit-unit lapangan, maka sejak 1925 banyak bangunan Depo Kepolisian
Polisi bersenjata di Sukabumi tidak lagi terpakai. Bangunan Sekolah Polisi atau Veld Politie School akhirnya
digunakan sebagai Sekolah Pelatihan Staf Polisi Umum yang dipindahkan dari
Bogor. Maka, pada 25 Januari 1925 ditetapkan bahwa Sekolah Pelatihan untuk
staf Polisi Umum di Bogor dan markas
pusat digabung salah satu organisasi dengan nama "Sekolah Pelatihan Staf
Polisi", yang didirikan Di Sukabumi, Sementara Markas Veld Politie serta
asramanya dibangun dan digunakan di degung jalan Cipelang.
Kondisi
Sukabumi saat itu sedikit memanas akibat sabotase fasilitas umum, yaitu
pemutusan kabel telepon di Palabuhanratu dan Cibadak pada tahun 1926. Pemimpin
sabotase itu bernama Haji Siakoesih dari Cisande, distrik Cibadak dan Moegli
alias Oeli dari Desa Parakanlima, distrik Cibadak. Selain kedua orang itu,
sabotase juga dibantu oleh seorang opas dan seorang jurutulis polisi dari desa
Lembur, selatan Sukabumi. Mereka kemudian ditangkap dan diadili. Untuk
mengatasi hal yang sama terutama saat memanasnya kader-kader PKI sehingga pecah
pemberontakan Komunis maka di Kantor Polisi dan juga di sekolah polisi untuk
calon perwira diwajibkan melakukan simulasi perburuan dan pengejaran terhadap
anggota komunis yang sedang mengadakan rapat gelap, mereka dikategorikan
sebagai penjahat yang sangat berbahaya. Pekerjaan rumah tahunan siswa sekolah
polisi adalah merancang rencana mobilisasi sebagai reaksi terhadap pecahnya
pemberontakan masyarakat Sukabumi terhadap Polisi. Sementara untuk petugas
polisis diadakan pelatihan
polisi selama 9 bulan (De Indische courant
02-02-1927)
Tahun
1928 pembangunan kantor pos dimulai sehingga kantor polisi harus dipindahkan ke
belakang toko de Gryd (Cikal bakal bioskop Indra), bersebrangan dengan dinas
pemadam kebakaran. Setahun kemudian yaitu ahun 1929 Afdelingbank membangun
gedung baru disudut lodjiweg (sekarang Bank BRI), sesudah bangunan selesai
dibangun, afdelingsbank pindah dari gedung lama (Bank Mandiri A yani depan
capitol) , gedung lama direnovasi dan dijadikan kantor polisi (Bataviaasch
Nieuwsblaad 30 September 1929). Namun tetap muncul Keluhan ketidaklayakan
kantor polisi saat itu sehingga diperimbangkan untuk mencari tempat baru yang
lebih permanen (Het
nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië 19-08-1930). Kantor polisi semakin sibuk bahkan mulai bulan september 1931 sidang
pengadilan landgerecht dilaksanakan di kantor polisi, tidak lagi di gedung
pengadilan (Landraad). (Het nieus van den dag voor Nederlandsch indie 02
septemer 1931). Masalah-masalah kriminal semakin berat diantaranya Penemuan
Morfin selundupan orang jepang Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië 12-11-1931. Kondisi kantor polisi semakin kurang nyaman dimana
pada masa-masa tertentu seperti musim hujan kurang nyaman, pernah terjadi Hujan deras dan pohon tumbang dibelakang
kantor polisi menimpa sebagian kecil bangunan ( Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië 12-01-1932).
Pemeritah
akhirnya melirik sebuah bangunan bekas inlandsche school dan europeesch school
yang dijadikan kantor gemeente sementara , saat kantor gemeente selesai
dibangun maka bekas sekolah tersebut kosong sehingga diputuskan pada tahun 1933
bangunan tersebut dijadikan kantor polisi yang sekarang menjadi Mapolresta
Sukabumi. Peran polisi dalam penanganan kota semakin penting, saat itu kondisi
Hindia Belanda mengalami malaise sehingga banyak tindak kejahatan, salah
satunya adalah Perampokan di sekitar Odeon (Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indië 07-05-1935 ). Saat pecahnya perang Dunia I polisi Sukabumi
dilibatkan untuk mencari orang-orang Jerman di Kota Sukabumi dan menggeledah
setiap rumah untuk menemukan bukti keterlibatan mereka sebagai mata-mata (Soerabaijasch handelsblad 17-05-1940).
Kondisi
Asia Tenggara saat itu semakin genting mengingat Jepang sudah melirik Hindia
Belanda yang mempunyai sumber alam melimpah. Pada tanggal 24 September 1940 Kantor Polisi Sukabumi
diperintahkan untuk melakukan pengamanan atas
delegasi Jepang yang membawa 24 orang ke Hotel Selabintana dalam rangka
perundingan antara Jepang dan Hindia Belanda yang dipimpin oleh Kobajashi dan
dari Pemerintah Hindia Belanda adalah Van Mook. Rupanya perundingan tersebut
mengalami kegagalan sehingga memberi jalan kepada jepang untuk menyerang Hindia
Belanda dengan terlebih dahulu menghancurkan Pearl Harbor. Polisi juga
disibukan dengan munculnya pejuang yang diasingkan di Sekolah Polisi yaitu
Hatta dan Syahrir. Situasi ini kemudian terbukti setahun kemudian dimana Jepang
menyerang Hindia Belanda dan membom Kota Sukabumi pada tanggal 6 september
1942. Markas Polisi Militer dibelakang mesjid Agung kemudian hancur berantakan
sementara seluruh pejabat Belanda melarikan diri ke Bandung, termasuk pra
polisi bergabung dengan tentara KNIL melawan Jepang namun hasilnya hancur
berantakan, Jepang menyerah 9 Maret 1942.
Dua hari kemudian Komisaris Polisi Asikin
memberitahukan supaya asrama polisi tempat Hatta dan Syahrir ditahan agar
dikembalikan fungsinya menjadi pada sekolah polisi. Namun Hatta menolak dan
akan menyerahkan pada Jepang karena Belanda sudah tak berkuasa lagi. Jepang kemudian membentuk kembali badan kepolisian
(Keisatsutai) . Merekrut kembali bekas polisi pribumi yang mau bekerjasama dan
memfungsikan kembali Sekolah Polisi dan dirubah menjadi Djawa Geisatsu Gakko. Kepolisian
dibagi menjadi 3 bidang tugas: Koto Kei Satsuka (DPKN atau Intelkam sekarang),
Kei Mu Ka (Umum), dan Keizal Ka (Ekonomi) (Hoegeng: Oase menyejukan ditengah
perilaku koruptif bangsa, Aris Santoso dkk, Mizan). Jepang juga membentuk badan-badan
pelatihan pemuda untuk keperluan diantaranya Keibodan (Barisan Bantu Polisi). Keibodan
dibawahi kepolisian dan Sukabumi Menjadi pusat pelatihan Keibodan (Sejarah
Revolusi Kemerdekaan 1945-1949 di Yogyakarta, Tashadi, Proyek Inverntarisasi
dan Dokumentasi sejarah Indoenesia 1991). Pada awalnya kepala Polisi Sukabumi
diangkat seorang pribumi bernama Bustami, namun kemudian digantikan oleh
perwira Jepang (Moehamad Roem 70 Tahun pejuang Perunding, bulan bintang, 1978,
cabinet officers). Jepang kemudian memfokuskan semua sumberdaya untu keperluan
perang, para polisi dan siswa sekolah polisi juga dikaryawakan untuk membuka
sebuah lahan di Selabintana untuk keperluan Jepang. Jepang juga membangun Lapangan
Inada (Danalaga Square sekarang) yang dipergunakan sebagai lapangan Sepakbola
dan juga latihan tentara. Jatuhnya bom atom di Hiroshima dan nagasaki menandai
berakhirnya kekuasaan Jepang di Asia Tenggara. Indonesia tak menyia-nyiakan
kesempatan ini untuk memproklamasikan Kemerdekaan.
Pasca
Proklamasi Kemerdekaan, kepolisian Sukabumi terlibat aktif dalam
pengambilalihan kekuasaan. Di Sekolah Polisi Jepang masih bertahan, senjata
dari sekolah kepolisian Sukabumi ke Markas tentara Jepang untuk menghindari perlawanan
bersenjata. Inspektur Sekolah Polisi Raden Said Soekanto kemudian memaksa
Jepang untuk megibrkan bendea merah putih dan mengembalikan senjata serta
menyerahkan kekuasaan kepada pemerintah Indonesia, Jepang akhirnya menberikan
25 pucuk senjata untuk pengamanan namun meminta pengalihan kekuasaan terjadi
sesudah munculnya pasukan sekutu, sementara merah putih boleh dikibarkan
bersebelahan dengan bendera jepang. Said Soekanto kemudian berangkat dari
Sukabumi menuju Jakarta dan menemui Bung Karno meminta pengambilalihan Sekolah
Polisi, Bung Karno belum memberikan jawaban malahan mengangkat dia menjadi
Kepala Polisi negara. Said Soekanto menginstruksikan untuk segera mengambilalih
Sekolah polisi paling lambat 1 Oktober 1945 (Madjalah Pantja Warna 1956-perayaan
ulang tahun Sekolah Polisi X 15 Desember 1955).
Panitia lima dibentuk di Kota Sukabumi yang terdiri dari Suryana (BKR), Sukoyo
(Kepolisian), S. Waluyo (KNID), Abdurrohim (Ulama), dan Ali Basri
(perwakilan dari kecamatan). Rencana Panitia lima diantaranya:
1.
Membebaskan para Tahanan
2.
Mengibarkan Bendera Merah
Putih di Seluruh Jawatan dan instansi, serta di pelosok kota dan kabupaten.
3.
Mengganti Kepala-kepala
jawatan yang dipegang oleh Jepang untuk diganti degan orang indonesia.
Kepala kepolisian
yang sedang menjabat bernama Sadeli dianggap tidak layak dan bukan polisi pejuang
sehingga dilengserkan oleh masyarakat ( sekitar perang kemerdekaan Indonesia
vol 2, AH Nasution, 1991). Pemerintahan Sipil dan Kepolisian yang dipimpin oleh
Harun SH, R. Bidin Surya Gunawan, R. Muhyi, dan R. Adiwikarta. Pasca
pengambilalihan kekuasaan terjadi beberapa kali bentrokan dnegan pasukan sekutu
yang berpuncak pada bulan Desember 1945 terjadi pertempuran konvoi melawan
pasukan Inggris yang tidak menepati perjanjian, Para polisi banyak yang
bergabung dengan para pejuang dalam pertempuran. Terjadi banyak ketegangan dan
saling curiga hingga muncul peristiwa pembunuhan Raden Ibrahim Sastranegara,
adik penerbang dan pahlawan yang dijadikan nama bandara di Bandung. Ibrahim menjabat
sebagai inspektur polisi Cicurug dan dituduh berkhianat.
Pada
tanggal 1 Juli 1947 Belanda melakukan agresi militer ke Sukabumi, para pejuang
melakukan politik bumi hangus. Kepala Kepolisian Sukabumi Bidin Suryagunawan
dan pejabat kepolisian Bogor Sumbada bersama sebagian polisi kota menggabungkan
diri dengan TNI membentuk markasnya di Nyalindung di bawah pimpinan Kolonel
Kawilarang dan terus melakukan perang gerilya. Sekolah polisi mengungsi ke
Gunung Buleud 20 km dari Kota Sukabumi kearah selatan. Para pejuang melakukan
pengacauan dan juga membunuh orang-orang yang masih membantu Belanda termasuk
para polisi. Pada tanggal 27 agustus 1947 terjadi pembakaran pabrik terjadi di
cipenjeuh, lurah dan polisi desa citancam (cican-tayan) ditemukan tewas. Tanggal
9 september 1947 Pukul 8.15 pagi terjadi penyerangan di pabrik teh pada asih
oleh lima orang kelompok bersenjata senapan otomatis. Pa entong (polisi
perkebunan) tewas ditembak, lainnya luka-luka (Military archive).
Belanda kemudian
memaksa para pejuang hengkang melalui persetujuan Renville. Para pejuang
akhirnya hijrah ke Jawa Tengah dan Yogyakarta sehingga kota Sukabumi sepenuhnya
dikuasai Belanda, namun masih ada sebagian pejuang yang bertahan. Pada masa
itulah Belanda menguasai kepolisian dan membentuk laskar Poa An Tui yang
terdiri dari masyarakat Tionghoa di Kota Sukabumi. Polisi digunakan untuk
melumpuhkan akses Pejuang dan masyarakat diadu domba dan dihasut untuk tidak
membantu pejuang. NICA kemudian membentuk pemerintahan vesi Belanda di Kota
Sukabumi. Masyarakat termasuk juga polisi mulai terbelah ada yang berpihak
kepada Belanda karena takut dan ada yang berpihak kepada para pejuang,
Perpecahan ini terlihat hjelas saat para Pejuang kembali dari Jawa tengah (Long
March) dan bergerilya di Sukabumi. Polisi bentukan Belanda pada akhirnya jadi
sasaran serangan perjuangan seperti kelompokpimpinan desersir tentara Belanda
yaitu Poncke Princen, melakukan serangan di pos polisi Baros yang berkekuatan
40 orang. Kepala polisi ketakutan sehingga sekitar 35 orang polisi dilucuti dan
digiring oleh 7 orang ke arah sungai. Di
sana para polisi itu dibubarkan dan disuruh pulang, kemudian melakukan penyergapan kembali di Pos Polisi
Sukaraja. Serangan dilakukan pukul 2 malam. Penyergapan berlangsung tanpa
perlawanan karena para polisi tidak siap, sekitar 40 orang polisi ditahan dan
ditempatkan di kamp dekat gunung gede. Sementara sekolah polisi Sukabumi pada
tahun 1948 berhasil mencetak polwan pertama sebanyak 6 orang yang dididik di
sekolah polisi Sukabumi dan dilantik sebagai polwan pertama tahun 1951.
Pasca
pengakuan kedaulatan desember 1949 pasukan Belanda hengkang dari Indonesia dan
kepolisian Sukabumi dibentuk kembali. Pada masa itu polisi disibukan dengan
gangguan keamanan dari gerombolan DI/TII yang seringkali masuk kota. Masyarakat
ketakutan karena seringkali terjadi pencegatan sehingga moda transortasi hanya
ada sampai pukul 6.0 sore, selepas itu jalanan sepi. Polisi terus berbenah, sejumlah anggota Mobrig (Brimob sekarang) menyelesaikan
pelatihan mereka di sekolah polisi di Sukabumi untuk pertama kalinya. (De
nieuwsgier 02-07-1951)
Pembangunan
lambat laun dilakukan, Untuk sarana olahraga Sekolah Polisi Negara membangun sebuah stadion
sepakbola (sekaligus atletik) pada awal 1950-an dan dibuka pada 22 Desember
1951. Stadion ini mempunyai tribune dengan kapasitas 1000 penonton dan music
hall. (Aneka, Tahun ke III No.1 1 Maret 1952). Yayasan Pusat Pertukangan Besi
Nasional di Cibatu pada 1953 giat melakukan pembuatan klewang polisi lengkap
dengan werangka dan ikat pinggangnya sebanyak 2500 buah (Pikiran Rakjat, 31
Januari 1953). polisi sukabumi termasuk para siswa sekolah polisi juga
diperbantukan dalam menumpas pemberontakan DI/TII di Gunung Gede dan Jampang. Sebuah
patroli gabungan tentara dan Barisan Perintis sempat bertemu dengan pasukan
sekitar 100 orang DI/TII dan terlibat pertempuran (Java-bode : nieuws, handels-
en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie 04-04-1955). Pada tahun 1956 polisi
menangkap Kepala perumahan Sukabumi ditangkap Bapak R. A. Dujeh Sutadipura atas
tuduhan penyalahgunaan jabatan (Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad
voor Nederlandsch-Indie 07-09-1956). Polisi juga berhasil menangkap pengedar opium
ilegal ditangkap Hari-hari ini seorang pedagang di Kebori Kalapa (Algemeen Indisch
dagblad : de Preangerbode 15-08-1957).
DI/TII terus merajalela diantaranya di Sudajaya membakar
kampung dan merampok tahun 1958Bulan September tahun 1961 Bupati Sukabumi versi DI/TII tertangkap
di Cipelang. Tentara, Polisi dan Masyarakat kemudian bekerjasama membentuk
operasi pagar betis di lereng Gunung Gede sampai akhirnya DI/TII bisa ditumpas.
Pasca selesainya pemberontakkan DI/TII Polisi kembali disibukan dengan
kerusuhan rasialis di Kota Sukabumi yang menghancurkan pasar, toko dan
rumah-rumah. Kepala
polisi Sukabumi melakukan hubungan telpon dengan Gubernur dan juga kepala
polisi jawa barat untuk mengatasi kekacauan 1963 (Pilot proyek selo sumarjan). Sementara kepala sekolah kepolisian
memerintahkan kendaraan-kendaraan yang dititipkan di parkiran sekolah didorong
keluar karena ternyata tanpa seijinnya hanya dimasukan begitu saja. Selain itu
muncul isu bahwa Guntur Sukarnoputra yang akan memimpin aksi terhadap warga
Tionghoa dan sudah berada di Cianjur dengan dikawal polisi menuju Sukabumi.
Peristiwa hari itu berakhir pukul 18.30. Pemerintah kota akhirnya memberlakukan
jam malam. Namun keesokan harinya muncul pengrusakan yang diawali oleh anak
kecil (pelajar SD) sehingga polisi hanya bisa menghalau mereka tanpa berani
melakukan tindakan represif. Kejadian ini disusul dengan pengrusakan masal
Dalam gelombang kedua ini mereka bukan saja membakar rumah dan toko tapi juga
mobil-mobil, motor, gedung-gedung pabrik dan bangunan pasar, tembakan
peringatan polisi sudah tidak dihiraukan. Terjadi kebakaran di kompleks pasar,
di jalan pasar dan gang ikan yang mengakibatkan bangunan seluruh pasar dan bebrapa
toko di tepi jalan pelabuhan habis terbakar. Keamanan bisa dipulihkan sesudah
datang bantuan dari Bogor. Parapelaku kemudian ditangkap dan diadili.
Politik masa itu
memanas sehingga polisi dilibatkan untuk pengamanan, Akhirnya beliau dibuang ke Sukabumi tahun 1964 tepatnya dikompleks
sekolah polisi secapa. Tokoh politik dan ulama Buya diamankan ke Sukabumi.
Sementara di masyarkat muncul saling curiga akibat konflik parta komunis dan
partai anti komunis. Sementara peran spionase PKI di Sukabumi juga terbukti
dalam Mahmilub dengan ditemukannya surat-surat Sudisman (Anggota CC PKI)
beserta denah (Plattegrond) sekolah polisi Sukabumi dalam arsip SBKP (serikat
buruh kementrian pertahanan) yang berisi beberapa petunjuk untuk menguasai
Sekolah polisi. Sukabumi juga menjadi bagian dari skenario pemberontakan yang
diatur Sjam Kamaroezaman (Djawa adalah Kuntji), yaitu bilamana pemberontakan
gagal maka ada 3 basis pengunduran yaitu Sukabumi Selatan, Merapi Merbabu
Complex dan Blitar Selatan.
Kegagalan aksi G 30/S/PKI menjadikan Sukabumi menjadi tempat
pelarian, diantaranya Sumiyarsih yang dijuluki Dokter Lubang Buaya tertangkap
dan diinterogasi di Kantor Polisi sukabumi. Ketegangan belum usai karena
terjadi aksi pengambilalihan aset-aset masyarakat Tionghoa di Sukabumi seperti
gedung pertemuan Kong So dan Sekolah Tionghoa. Suasana baru sesudah tumbangnya
orde lama seolah terlepas dari kekangan, terjadi euforia kaum muda dari
akademisi yang sangat kritis, misalnya dalam kasus Rene Conrad Mahasiswa ITB
yang tewas dikeroyok Taruna Akpol pada tahun 1970, kasus yang merenggangkan
hubungan mahasiswa dan militer ini sempat membuat aksi long march Ketua Dewan
Mahasiswa ITB, Syarif Tando dan
mengadakan demonstrasi bersama mahasiswa dan pelajar dari Bandung di depan
Akademi Kepolisian (Akabri-Polisi) di Kota Sukabumi.
Pada tahun-tahun berikutnya persoalan kota
menyangkut masalah
antar gang, muncul nama-nama gang seperti Silbra, Alcanza, Meses, Saloka,
Tipar,dan lain-lain. Mereka sering berseteru satu sama lain dan berkelahi
sehingga beberapa diantaranya terluka bahkan tewas untuk mempertahankan
kehebatan gangnya. Isu keamanan terkadang muncul dari peristiwa di sekitarnya,
misalnya pada tanggal 20 April 1979 ada kabar yang beredar di Sukabumi bahwa
seorang penjahat kelas kakap yang konon juga disebut Robinhood karena sering
merampok toko emas dan membagikannya ke masyarakat, tertangkap di Gunung Guruh
yaitu Johny Indo. Johny yang saat itu dicari-cari pihak keamanan karena ulahnya
yang sering merampok dengan kelompoknya pachinko (pasukan Cina Kota), rupanya
bersembunyi di Gua Kutamaneuh Gunung Guruh sambil bertirakat, namun ternyata
keberadaannya terendus koramil Gunung Guruh dan langsung dilakukan perburuan
hingga tertangkap dan dibawa ke kantor polisi Sukabumi sebelum akhirnya dibawa ke Nusakambangan.
Tiga bulan kemudian warga Kota kembali dihebohkan dengan berita
pembunuhan berdarah dingin yang dilakukan tentara Edi Sampak yang menewaskan 5
orang dan empat luka parah. Korban tewas
adalah Sersan Sutardjat, Daeng Rusyana, Djudjun, Sugandi, dan seorang lelaki.
Sersan Mayor Sutardjat, yang merupakan juru bayar Kodim 0608 Cianjur, bertugas
mengambil gaji pegawai di Bank Karya Pembangunan, Sukabumi, Jawa Barat. Eddy
dibantu Odjeng kemudian memberondong mereka di perkebunan Gekbrong dengan
senjata Carl Gustaf. Eddy Sampak diburu dan akhirnya ditangkap seminggu
kemudian di Cigintung. Sayangnya Eddy berhasil melarikan diri dari Rumah Sakit
tahanan Militer Cimahi dan menghilang tanpa jejak. Pada era tahun 1980-an juga sempat santer tentang petrus alias penembak
misterius, biasanya sasarannya para preman yang ditembak dan dibuang seenaknya,
istilah masyarakat “dikarungan”, hal ini karena merajalelanya preman sehingga
Presiden Suharto membuat operasi khusus. Banyak mayat yang ditemukan di jalan
Plabuan, di pabuaran atau diluar Kota seperti Gegerbitung, Sukaraja, Cipriangan
misalnya yang dibawa ke Kota oleh polisi sesudah ditemukan masyarakat.
Daftar Pustaka
·
ANRI, 2014,
Citra Kota Sukabumi dalam Arsip, Arsip Nasional Republik Indonesia
·
Disjarah TNI AD. (1985).
Penumpasan Pemberontakan DI/TII S. M. Kartosuwiryo di Jawa Barat. Bandung:
Disjarah TNI AD, hlm. 118. 3 Disjarah TNI AD. (1972). Cuplikan Sejarah
Perjuangan TNI Angkatan Darat. Bandung
·
Gunseikanbu, 1986, Orang
Indonesia Jang Terkemoeka di Djawa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,
Indonesia, Indonesia,
·
Jaya, Ruyatna, 2002, Sejarah Sukabumi, PEMDA [Pemerintah Daerah]
Kota Sukabumi.
·
Stinnett,
Robert, Day Of Deceit: The Truth About
FDR and Pearl Harbor, Mook,
Hubertus, 1944, The Netherlands,
Indies and Japan: Their Relations 1940-1941, G. Allen & Unwin ltd, London
·
Soemardjan, Prof. Selo, 1963, Gerakan
10 Mei 1963 di Sukabumi, PT. Eresco Bandung
·
Tan, G Melly, 1963, The
Chinese of Sukabumi: a Study in Social and Cultural Accomodation, Ithaca, New York
·
Iskandar,
Yoseph, Dedi Kusnadi, Jajang Sriyani, 1997, Pertempuran Konvoy Sukabumi-Cianjur
1945-1946, Sukardi LTD Ptd, Jakarta
·
Lestariningsih,
Amurwani Dwi, 2011, Gerwani: Kisah Tapol Wanita di Kamp
Platungan, Kompas, jakarta
·
Steenbrink,
Karel, 1988, Mencari Tuhan dari Kacamata Barat Vol.1, IAIN Kalijaga Press,
Yogyakarta
·
Iskandar, Yoseph, Perang Konvoi Sukabumi-Cianjur 1945-1946, Mata Padi, Jakarta
·
Firmansyah, Irman, Soekaboemi the Untold
Story, Yayasan dapuran Kipahare, Sukabumi 2017.
·
___________, Kota Sukabumi: Menelusuri Jejak
Masa Lalu, Soekaboemi Heritages,SUkabumi, 2017
·
Tanumidjaja, Irjen Pol Memet, 1971, Sejarah
Perkembangan Angkatan Kepolisian, Departemen Pertahanan Keamanan Pusat Sejarah
Abri, Jakarta
·
Bloembergen, Marieke: Polisi Zaman Hindia
Belanda antara kepedulian dan ketakutan,
KITLV, Jakarta, 2009
·
Nasution, AH, sekitar
perang kemerdekaan Indonesia vol 2, Jakarta,
1991
------ Sebagian hasil penelusuran Wa Achmad Soleh tentang letak kantor polisi
------ Foto Kang Joni Janaka

Tidak ada komentar:
Posting Komentar